Unjuk Kabisa Seni Budaya 7 Gunung

Hari Minggu yang cerah itu ada satu agenda yang ingin saya hadiri. Tempatnya tidak jauh, hanya sekitar 4 km saja dari rumah ini. Matahari yang bersinar cerah di hari itu seolah pertanda ada sesuatu yang mencerahkan akan ditampilkan di hari itu. Acara riuangan bertajuk “Bogor Bike Week” pun tak mampu untuk pikiran ini berubah pikiran. Dengan mengajak istri dan anak dan dengan persiapan ala kadarnya, kami membulatkan tekad untuk melihat secara langsung acara itu, acara yang di dalam benak ini mungkin tidak terlalu ramai, tapi pasti akan sangat menarik bertajuk “Unjuk Kabisa Seni Budaya 7 Gunung” bertempat di Kampung Budaya Sindangbarang Bogor.

Langsung saja motor matic putih meluncur ke Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Bogor. Jalan masuk ke Kampung Budaya tidak terlalu lebar, hanya cukup untuk 2 mobil namun harus perlahan berpapasan. Dari jalan utama, untuk kesana harus belok ke kanan dengan plang “Kampung Budaya Sindangbarang” di pintu masuk jalan. Setelah menanjak cukup terjal, terlihatlah beberapa rumah yang berbeda di sebuah lembah. Rumah-rumah tersebut berarsitektur berbeda karena memang ya, itu adalah rumah ada Sunda. Kampung Budaya terletak asri di sebuah lembah, dikelilingi oleh area pesawahan yang luas.

Dari jauh seperti tampang sepi, saya dan nyonya sempat ragu, apa benar acaranya sudah dimulai. Tapi begitu melihat parkiran yang ada diseberang jalan masuk ke Kampung Budaya, pikiran itu sirna, senyum mengembang, ternyata acaranya sangat ramai. Itu terlihat dari banyaknya mobil dan motor yang terparkir.

Setelah menitipkan motor di parkiran, kami berjalan menuju Kampung Budaya. Jalannya sedikit menanjak, bebatuan, namun sejuk karena dipayungi oleh rimbunnya pohon. Selama berjalan itu kami berpapasan dengan banyak orang, baik itu pengunjung maupun pelaku acara yang terlihat dari pakaian yang digunakan. Tidak sedikit juga para fotografer yang berlalu-lalang, karena di acara ini pula diadakan lomba foto oleh Komunitas Fotografi Bogor.

Untuk masuk ke Kampung Budaya, jalannya sedikit memutar dengan terlebih dahulu turun ke sisi sawah. Lalu disana ada jalan tangga menuju area utama Kampung Budaya. Ketika kami masuk, disana sudah ramai banyak orang. Rupanya sedang ada acara kesenia yang ditampilkan yaitu dari padepokan silat banten. Acara seni ini menampilkan seni bela diri khas banten yaitu kebal untuk ditikam golok, memecahkan bata dan lain-lain. Fotografer sibuk mencari posisi untuk mengabadikan gambar sedangkan penonton sibuk mencari posisi yang bagus agar bisa jelas melihat pertunjukan seni yang sedang berlangsung.

Suasana yang ramai di acara "Unjuk Kabisa Seni Budaya 7 Gunung" di Kampung Budaya Sindangbarang Bogor
Suasana yang ramai di acara “Unjuk Kabisa Seni Budaya 7 Gunung” di Kampung Budaya Sindangbarang Bogor

Acara “Unjuk Kabisa Seni Budaya 7 Gunung” ini merupakan acara pertunujukan seni dan budaya untuk memperkenalkan, menunjukan dan mempromosikan semua seni dan kebudayaan yang berasal dari sekitar 7 gunung di Jawa Barat. Untuk pertama kalinya diadakan di Kampung Budaya Sindangbarang ini. Ke depannya, akankah di tempat yang sama atau tempat yang lain, kita lihat saja nanti. Saya sih berharap acara ini tetap diadakan di Kampung Budaya Sindangbarang Bogor. 🙂

Kembali ke acaranya, setelah acara seni bela diri banten, kemudian disusul oleh penampilan dari padepokan silat asal Tamansari Bogor. Seni silat ini ditampilkan oleh rata-rata remaja usia 10-15 tahun dengan didampingi oleh para gurunya. Gerakan yang ditampilkan menarik untuk ditonton. Setelah itu ditampilkan seni Topeng Banjet. Menurut pembawa acara, seni Topeng Banjet ini cikal bakal lahirnya tari goyang Karawang. Memang di awal penampilannya ada penari yang menari seperti penari goyang Karawang dengan pinggul yang meliuk-liuk. Bedanya setelah itu disusul penampilan drama Sunda.

Sebelum dzuhur kemudian ditampikan seni Benjang. Menurut pembawa acaranya, seni ini berasal dari kaki gunung Tangkuban Perahu. Seni ini gabungan dari banyak seni, ada tarian, nyanyian, juga semacam debut. Para penari Benjang tiba-tiba kesurupan dan berlari ke sawah lalu kembali dalam keadaan kotor sambil melakukan gerakan yang tidak bisa diterima akal sehat.

Sayangnya seni Benjang merupakan seni terakhir yang saya bisa lihat, karena anakku mesti makan siang jadinya setelah seni Benjang usai, break dzuhur kami pulang. Acara di Kampung Budaya itu sangat ramai. Bagaimana kekayaan seni dan budaya di Jawa Barat begitu kaya. Jawa Barat butuh Kampung Budaya – Kampung Budaya lainnya. Pemain seni tari Banjet bertutur dalam pertunjukannya *dalam bahasa Indonesia “Saya kagum dan bangga ketika masuk ke Kampung Budaya Bogor, saya berharap di Karawang pun akan dibangun tempat seperti ini”. Ini merupakan ungkapan tulus dari para pelesari seni budaya Sunda yang patut ditindak lanjuti. Kekayaan seni dan budaya di seluruh Indonesia harus bisa dilestarikan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. 🙂

**Noted : Foto dan Video menyusul 😀