Sidang Tilang Lalu-Lintas

Saya mau berbagi cerita bagaimana saat bulan lalu kena tilang dan bagaimana langkah-langkahnya kemudian sampai SIM yang ditahan bisa kembali. Ceritanya akan panjang karena saya berusaha menceritakannya secara detail. Membacanya mungkin akan sedikit terkejut dengan kenyataannya yang terjadi. Jika selama ini jika kena tilang lalu “damai” mungkin dengan membaca cerita ini bisa dipikirkan ulang kembali “jalan damai” yang biasa ditempuh. 🙂

Ditilang

Pagi itu, seperti biasa, setelah mengantarkan Nyonya ke sekolahnya di Labschool Pendidikan Karakter IPB yang lokasinya di sebelah Botani Square, saya lalu menuju parkiran motor di belakang terminal Baranang Siang. Keluar dari jalan Cidangiang (jalan keluar bus Damri Bandara) saya putar balik motor persis di depan pintu keluar terminal. Lalu saya pun tancap gas ke arah Tugu Kujang, maksudnya belok ke arah Pasar Bogor, masuk ke Jalan Bangka untuk menuju parkiran di belakang terminal. Sebelum mencapai tugu kujang, saya melihat beberapa petugas Polisi. Dengan tanpa merasa bersalah, saya berkendara seperti biasa, berada di lajur kiri. Mendekati petugas polisi, tak disangka saya pun diberhentikan. 😀

“Selamat pagi, Pak” salam dari Pak Polisi yang akhirnya saya ketahui namanya Eko Prayogo, lupa pangkatnya.

“Iya, selamat pagi. Ada apa ya, Pak?” jawab saya.

“Bapak kenapa putar balik disitu?” tanya Pak Polisi sambil menunjuk arah pintu keluar terminal.

“Sudah biasa, setiap hari juga putar balik disitu” timpal saya.

“SIM dan STNK nya, Pak” tanya Pak Polisi itu kemudian.

Selanjutnya saya pun turun dari motor untuk menyerahkan SIM dan STNK sambil mengikuti Pak Polisi ke arah belakang mobil patroli yang diparkir di parkiran KFC Tugu Kujang. Saya hanya diam memperhatikan. Ia pun mulai menulis surat tilang.

“Bapak jangan dibiasakan dong putar balik disitu, disitu kan ada rambuk larangan, kalo kenapa-kenapa, Bapak dianggap bunuh diri” begitu kata Pak Polisi Eko Prayogo coba menasehati saya. Ia pun terus menulis surat tilang. Sengaja saya diam, ingin tahu apa ia menawarkan jalan damai seperti cerita-cerita orang atau tidak. Saya pun tidak berusaha meminta “jalan damai”, karena pikir saya, wah pertama kali nih dapet tilang, ini jadi kesempatan ingin tahu bagaimana proses sebenarnya jika kena tilang.

Dengan wajah bersungut-sungut ia pun menyuruh saya menandatangani surat tilang tanpa memberi penjelasan pasal berapa yang saya langgar dan berapa dendanya. Saya pun sengaja tidak bertanya, ingin tahu apakah ia akan menjelaskan, ternyata tidak. Sebelum menandatangani saya pun teringat pernah membaca sebuat artikel bahwa jika mengakui pelanggaran dan bersedia membaya denda maksimal, maka boleh meminta form biru yang berarti saya mengakui kesalahan lalu kemudian membayar di bank BRI terdekat dan bisa langsung mengambil SIM yang ditahan kembali.

“Pas, ga ada form biru gitu?ini kan form merah” tanya saya.

“Wah, ga ada itu. Sudah tanda tangan saja, nanti sidang tanggal 1 Agustus” sungut Pak Polisi Eko Prayogo.

“Sidangnya dimana Pak?” tanya saya kemudian sebelum meninggalkan Pak Polisi itu karena ia tidak menjelaskan.

“Di pengadilan Bogor, sebelah Telkom” tandasnya.

Baiklah, dalam hati, saya akan ikuti prosedur yang berlaku. Sidangnya 2 minggu setelah kejadian, 1 Agustus 2013 di Pengadilan Negeri Bogor.

Persidangan

Selama menunggu persidangan, bola-balik saya membaca surat tilang yang ternyata hanya secarik kertas dengan tulisan agak kurang jelas. (*sayang lupa difoto surat tilangnya). Yang cukup jadi perhatian saya adalah pelanggaran dikenakan adalah pasal 287 ayat berapanya tidak jelas dan nama petugasnya yaitu Eko Prayogo dengan pangkat kurang jelas juga. Juga tanggal sidang 1 Agustus di Pengadilan Negeri Bogor beserta alamatnya.

Pada tanggal yang dimaksud, jam 8.30 pagi saya sudah sampai di pengadilan negeri Kota Bogor.

Pengadilan Negeri Bogor (Tampak Depan)
Pengadilan Negeri Bogor (Tampak Depan)
Gedung Pengadilan Pelanggaran Lalu-Lintas
Gedung Pengadilan Pelanggaran Lalu-Lintas

Daftar Peserta Sidang

Saat itu hanya ada sekitar 3-5 orang yang sedang menunggu. Juga ada ibu-ibu berpakaian seperti hakim dan seorang kakek seperti petugas pengadilan. Tak ada petunjuk apapun dengan ruang sidang terbuka bebas. Di depan ruang sidang ada papan yang berisi daftar orang yang akan disidang hari itu. Saya mencari nama saya di daftar tersebut. Sementara saya mencari, ibu-ibu yang tampak seperti hakim itu bicara.

2013-08-01 09.21.32

“Coba mana Pak, saya liat tilangnya, ga usah takut. Saya kan mau bantu, ga maksa, kalau di luar pengadilan baru boleh takut. Sini saya lihat, mau sidang juga gapapa” kata Ibu tersebut setengah berteriak.

Kemudian Ibu tersebut mengambil beberapa surat tilang dari para orang yang sedang mencari daftar namanya. Ketika menemukan ia menulis nomor urut di surat tilang tersebut. Setelah itu menyerahkannya ke Kakek yang ada disitu. Sepertinya temannya, karena mereka bekerja sama. Saya masih mencari tapi tidak juga ketemu. Lalu saya menanyakan ke Ibu tersebut. Dengan tanpa meminta persetujuan ia langsung mengambil surat tilang yang ada di tangan saya. Mengecek ke daftar di papan tapi tidak juga menemukan, lalu surat tilang tersebut diserahkan ke si Kakek.

Tak lama si Kakek memanggil saya dan dua orang lainnya ke sudut pengadilan.

“(tiba giliran saya) Insan, mana ini?” tanya si Kakek.

“Iya saya Pak” jawab saya.

“Ini berkasnya belum masuk. Bisa saya ambil di Polresta, kamu di denda 60ribu ini, kalau mau saya ambil, terseralah berapa aja, 20 ribu gitu, jadi 80 ribu, nanti saya ambil di Polresta” sahut si Kakek.

Hmm..dalam hati, saya kan ingin ikut sidang.

“Lah gimana sih Pak, di surat tilangnya kan tanggal 1 Agustus” sungut saya.

“Saya ga maksa, kalau mau sidang silahkan” jawab si Kakek.

“Tapi gimana saya tau sidangnya kapan kalau begini” tanya saya, bingung.

“Coba tanya ke polisinya aja” saran si Kakek.

“Lah gimana, emangnya gampang cari polisi yang nilang lagi tugas dimana?” cecar saya.

“Tanya aja sama polisi di tempat kamu ditilang”

“Ya sudah, saya cari aja, Pak, terimakasih” saya pun kembali ke motor, menuju terminal baranang siang tempat saya ditilang.

Saya pun bergegas mencari polisi yang menilang saya, jika tidak ada saya akan tanyakan petugas polisi mengenai keberadaan Pak Eko Prayogo sampai dapat hari itu juga. Bukan apa-apa, sebenarnya hari itu saya sedang keadaan tidak fit juga, jadi agak kesal karena seharusnya saya istirahat.

Di sekitar Tugu Kujang rupanya sedang berlangsung acara “tilang”. Saya pun berhenti, bukan diberhentikan tapi turun menanyakan kejelasan proses sidang tilang saya.

“Selamat pagi pak, saya Luthfi, mau cari Pak Eko Prayogo” salam saya kepada seorang polisi di tempat.

“Iya, ada apa” sahut polisi tersebut.

“Begini Pak, saya harusnya sidang tanggal 1 Agustus, tapi kenapa di daftarnya nama saya ga ada. Saya kan jadi buang-buang waktu, kecewa saya Pak” saya berusaha menjelaskan sambil menunjukan surat tilang ke Polisi tersebut.

“Itu sih mungkin masih di Polresta, berkasnya mungkin belum dikirim, coba kamu cek, kalau sudah dikirim, tanyakan nomor pengirimannya, harusnya sudah ada di pengadilan” jelas Pak Polisi tersebut.

“Lah ini jadi kepastinya saya sidang kapan sih Pak?” sungut saya.

“Coba kamu cek dulu ke Polresta. Sudah dicek belum?” saran ia.

“Belum sih. Jadi saya harus ke Polresta nih, ke bagian apa?”

“Bagian tilang”

Byaaah, seperti dipimpong. Mau tidak mau saya ke Polresta demi kejelasan status tilang saya. (*ternyata status jadian kalah galau dbanding status sidang tilang :p). Saya pun bergegas ke Polresta Bogor yang ada di Kedung Halang.

Polresta

Saya pun masuk ke Polresta Bogor, setalah menanyakan ke petugas jaga dimana letak Unit Tilang, saya pun masuk. Di dalam sudah ada dua orang yang ternyata bernasib sama, sidang di hari itu namun tidak ada di daftar. Kemudian saya menyerahkan surat tilang ke polisi yang ada di dalam lalu menunggu.

Tidak lama, nama saya dipanggil.

“Pak Insan” panggil Pak Polisi.

“Ya Pak”

“Enam puluh ribu rupiah” sahut polisi tersebut. Pikir saya dalam hati “Emang bisa bayar disini ya?”

“Memang boleh bayar disini Pak?” tanya saya.

“Iya boleh, berkasnya belum dikirim nih, nanti juga uangnya disetorkan ke pengadilan”

Loket Unit Tilang
Loket Unit Tilang

Karena saya sudah cukup putus asa dipimpong, saya pun bersedia membayar 60rb tanpa bertanya apakah itu dendan maksimal atau bagaimana. Dalam pikiran saya saat itu, sudahlah, saya ingin segera selesai dan istirahat. Saya pun kemudian membayar, lalu SIM saya pun dikembalikan.

“Saya ga dapet berkas itu pak?” tanya saya penasaran karena saya tidak menerima bukti pembayaran sama sekali.

“Oh ga usah, ini buat disini semua”

“Kalau saya mau sidang kapan Pak?”

“Karena minggu depan lebaran, jadi kayaknya 2 minggu lalu”

-__-‘ Oke 60 ribu harga yang cukup masuk akal, lagi pula ini di kantor polisi yang resmi, uangnya pun masuk laci administrasi. Okelah tidak ditilep. Saya pun berhasil mendapatkan SIM saya kembali. Tapi hari itu tidak berakhir disitu. Di jalan, saya masih penasaran, denda saya jika disidang berapa sih, lalu saya pun mengarahkan motor kembali ke pengadilan negeri Bogor.

Ada yang menarik, ingat si Kakek di pengadilan?Saya bertemu dia di Unit Tilang ini, sedang mengurus beberapa surat tilang titipan. Yang dibayarkan ternyata sama, 60rb, apapun pelanggarannya. Dari cara polisi menyapa si Kakek ini, bisa dipastikan kalau si Kakek sudah biasa menebus SIM dan STNK yang belum naik sidang. Hahaha.

Kembali ke Pengadilan

Sebelum pukul 10.00 saya sudah di pengadilan kembali. Sekarang suasananya sudah ramai. Ruang pengadilan sudah penuh sesah. Terlihat hakim, jaksa dan panitera sudah duduk di kursinya masing-masing.

Setelah menunggu beberapa saat di luar ruang sidang, pengadilan dimulai tepat pukul 10.00. Saya pun masuk ruangan, bukan sebagai terdakwa, tapi hanya penonton. Seharusnya yang di dalam ruangan adalah yang akan disidang, tapi karena penasaran, saya ya menyelinap saja. :D.

Panggilan pertama pun dipanggil oleh Bu Hakim. (*Hakimnya seorang wanita). Sebelumnya Bu Hakim menjelaskan tata cara sidang, yang didalam ruangan supaya tertiba, jika namanya dipanggil, makan maju untuk duduk di depan hakim. Setelah vonis, denda dibayarkan kepada Jaksa, lalu SIM atau STNK yang ditahan dikembalikan. Seseorang dipanggil maju Bu Hakim.

“Kamu kesalahanya apa?” tanya Bu Hakim.

“Lupa menyalakan lampu bu” jawab terdakwa.

“Ya sudah, kamu saya denda 35rb sudah termasuk ongkos perkara. Bayar ke Pak Jaksa sebelah sana ya”

Kemudian terdakwa membayar ke Pak Jaksa yang ada di kiri ruangan pengadilan. Lalu Bu Hakim memanggil peserta sidang selanjutnya dan selanjutnya. Saya pun memperhatikan dipojokan sembari mencatata beberapa pelanggaran dan dendanya. Nah ini dia yang berhasil saya catat.

  • Tidak pakai lampu, 40rb.
  • Tidak pakai helm, 35rb.
  • Putar arah, 35rb. (*sama dengan pelanggaran saya nih)
  • Terobos lampu merah, 40rb.
  • Tidak menggunakan spion, 35rb.
  • Tidak pakai helm, lampu mati, 50rb.
  • Tidak punya SIM, 50rb (*ancaman denda maksimal, 1jt)
  • Melanggar rabu, 35rb.
Sidang Tilang
Sidang Tilang

Setelah mengalami proses ini semua, jadi saya berkesimpulan :

  • Jangan pernah mengambil “jalan damai” itu termasuk suap menyuap yang juga berarti korupsi. Biasakanlah taat peraturan, jika melanggar ya ikuti saja prosedur hukum yang berlaku. Kebayang kan tanpa ditulis surat tilang, “uang damai” yang kita berikan langsung ditilep sama oknum polisit tersebut. Secara tidak langsung berari penyuap turut andil memberi nafkah haram bagi keluarga polisi tersebut.
  • Jika tidak ingin menunggu sidang yang bisa 1 minggu atau 2 minggu kemudian, datang saja ke Polresta / Polres di sore (mungkin sudah masuk) atau esok harinya di Unit Tilang. Bayar dendan maksimal, dari pengalaman saya, segala jenis pelanggaran 60ribu, uangnya lebih jelas masuk ke pengadilan. Walaupun mungkin ada lebihnya ketika dibayarkan ke pengadilan, setidaknya hanya sebagian kecilanya.
  • Pengadilan tidak menakutkan, jika ikut prosesnya, hanya harus bersabar menunggu giliran sidang yang mungkin bisa jadi seharian. Dendanya pun dalam pertimbangan hakim. Dari yang saya lihat paling kecil 35ribu sedangkan paling besar 50ribu. Padahal ancaman mulai dari 250rb sama 1jt.
  • Terakhir, jangan pernah melanggar peraturan lalu-lintas. Aturan dibuat untuk keselamatan diri pengendara itu sendiri. Jadilah pelopor keselamatan berkendara. Jikapun ditilang, mintalah sebagai peringatan, karena polisi yang bijak, bisa saja hanya memberi teguran atau peringatan jika pelanggarannya bukan pelanggaran berat.

Ini ada video suasana sidang, semoga tidak takut lagi akan sidang pengadilan, sehingga jangan ada lagi “uang damai”. 🙂

28 thoughts on “Sidang Tilang Lalu-Lintas

  1. Yang menjadi pertanyaan dan memang negeri ini maunya RIBET..
    Kenapa mesti pake sidang segala??? (kalau memang itu aturan, kan bisa dirubah), toh kesalahannya sudah jelas, dendanya juga sudah jelas, dan kayaknya belum ada satupun yang dinyatakan melanggar lalulintas lalu dibebaskan dari denda..
    Berarti semua itu cuma formalitas saja.. tidak ada untungnya sama sekali buat negara dan masyarakat. Malah merugikan negara, karena pendapatan dari denda tersebut terhambat 2 minggu, coba kalau langsung bayar denda di tempat (tentunya melalui Bank/ATM), negara akan dapat pemasukan hari itu juga. Negara akan semakin kaya, karena memang setiap hari banyak pelanggar lalulintas.

    1. Anda benar juga ya. Memang seolah-olah sidang hanya jadi formalitas, denda-nya pun segitu-gitu aja. Harus ada terobosan peraturan.

    2. setuju sama komen bro Hamrin, kenapa dipersulit ya!
      dan makasih sharingnya bro ilhabibi, jadi besok2 mending minta sidang aja.
      tapi moga2 ga pernah ketangkep lagi…hehehe…

    3. 17 juli 2016 ,saya Sangat kecewa dengan polisi bogor .yang menilang saya dengan kesalahan yang tidak sesuai aturan…

    1. Ikutin aja sidangnya, lama ngantri iya, tapi dendanya kecil kok, dan yg jelas buat negara pasti. Tp ga tau ya kalo dah masuk kas negara pas keluar dikorupsi lagi 😛 setidaknya ga langsung k kantong pak wereng coklat

  2. Ternyata yg menghambat terobosan tilang itu, jaksa dan hakim yg cuma formalitas dan buang energi PNS sia-sia…polisi udah bisa kerjasama dengan pemprov Dki Jakarta, mestinya cukup denda maksimal, lsg bisa bayar lewat ATM atau mesin debet/kredit card…

  3. Tq artikelnya membantu bgt.. tadi siang abis kena tilang dan sidangnya 2 minggu lg pas tgl ultah.. 😀 klw ada yg share pengalaman gni kan enak wkt sidang g ketipu..hehehhe

    1. sama-sama, ditulis kan supaya orang lain jadi tau dan tidak tertipu, hihihi..kalo bisa urus sendiri, ga usah pake calo ya. mudah kok cuman ya itu aja, birokrasi Indonesia, lama :p

  4. Mau tanya senior, kemarin saya kena tilang bawa Mobil tapi gk punya SIM kira2 apa maksud nya denda itu maksimal 1 juta, padahal kalo ikut pengadilan bayarnya cuma bisa 50 ribu.. Mohon penjelasannya.

    1. Maksimal denda yang bisa dijatuhkan yaitu 1 juta. Tapi kenyataannya di persidangan ga pernah tuh dijatuhkan denda maksimal.
      Jadi mending seminggu sebelumnya main-main aja ke tempat persidangan, perhatiin deh yang disidang, mesti ada kasus yang ga punya sim juga.
      Pengalaman saya sih pas nontont, ga punya sim kena dendan sekitar 50-60 rupiah plus disuruh sama hakim buat bikin SIM. Hehehe. Semoga lancar sidanganya gan!

  5. bray mau tanya juga ni, 2 minggu lg ane sidang 😀
    pas kena tilang, ane minta yg warna biru juga tp gk di kasih dg alasan gk ada, terus ane di suruh tandatngan bahwa ane mengakui ane bersalah, tp ane nolak dan gk mau tandatngan sampe tuh polisi nulis di surat tilang bahwa terdakwa tidak mau tandatangan,, pertanyaannya” ada masalah tambahan gk ya klo kita gk tandatngan di surat tilang..?”
    tq bray…

    1. hmm…aneh jg. klo lo minta form biru kn sebenernya lo mengakui klo lo bersalah. form merah justru lo ga mengakui lo bersalah makanya lo diajukan ke persidangan.
      persidangan yg gw liat sih formalitas aja, ga ada waktu jg buat berargumen pembelaan diri mengingat peserta sidang tuh bejibun. jd gw sih yakin ga akan ada tambahan denda. paling disinggung hakin doang kenapa ga di ttd. abis itu ya kena denda standar.
      saran gw, klo mau sidang ikutin aja bray. 2 minggu lg dateng ke persidangan pagi-pagi. klo mau cepet sekarang jg ke polres/polresta aja ke bagian sim, ad disono dan bisa ditebus kok.
      begitu bray mudah”an menjawab.

  6. Wah saya pernah ditilang lalu minta pasal mana yg dilanggar dan dendanya berapa. Disitu ditulis denda maksimal 600rb. Saya menerobos lampu merah, waktu itu udah capai nyetir lama dan macet. Tapi di persidangan ko bisa murah semurah itu y?

    1. Iya memang murah karena denda yg diterapkan hakim di persidangan bukan denda maksimal. Inget ga waktu kemaren sempet banyak berita pendindakan tegas yg melanggar jalur trans jakarta? Karena permintan kepolisian, baru ditetapkan denda maksimal yaitu saju juta rupiah. Berarti kan sebelumnya walaupun denda tp tidak maksimal.
      Kalo lg iseng coba aja nonton sidang lalu linta di kota Anda. 🙂

  7. Broo kalau kena tiga pasal gitu gimana yaa? Pasal 280,285,288 karena vespa saya surat2nya mati dan ga ada spion.. Thanks

    1. Halo brader, nyasar ke blog gw pasti lagi googling. 😛
      Pas jaman gw waktu itu sih yg kena 3 pasal pun paling mahal kena 60ribu. Ga punya sim, ga bawa stnk, ga pake helm. Ajib kan tuh. Yg gw amati sih hakimnya ga akan ngenain denda maksimum, jadi menurut gw sih tenang aja brader. Biar lebih tenang, di hari sebelum sidang, dan itu pun klo ada waktu, main aja ke pengadilan tempat sidan lalin. Nonton deh sidangnya nanti jadi tau kisaran denda yang bakal kena. Gitu brad, paling banter dinasehatin hakim. btw, idupun lagi lah surat2nya, sayang kali 🙂

      1. Haha iyaa broo ane perdana kena langsung 3 pasal, di Bogor lagi jl soleh iskandar underpass belokan yg mau ke cilebut. Selama 8 tahun ini saya pakai vespa baru kali ini 😀 . Biasanya kena di Jkt tapi yaa cuma uang rokok aja setelah argument basa/i cerita sana/i.
        Kaget krna si polisi yg angkuh itu bilang mau dibantu ga ?
        Saya bilang “mau pa tapi ga pegang uang” lalu si polisi nunjuk 100rb dendanya entah yg mana tanpa memberi penjelasan. Pdahal saya tahu maksudnya sidang titipan, tapi tetep saya bilang “gapunya uang pak” lalu dia smbil nulis ngegurutu dengan nada kesal dan langsung ngasih surat merah tanpa penjelasan dan basa/i apapun “ini pak saya masih mau nilang yang lain” 😮 weeeew..
        Padahal disitu tidak ada atribut razia sama sekali adanya pun di pertigaan..
        Blm ada rezekinya bro 😀 lagian sudah 10th pajak bobo, mau sekalian ganti kalau ada rezeki ini mau dipajang utk anak cucu nanti..

  8. Update info, td pagi ane ikut sidang di PN bogor. Tp pas ngecek daftar peserta sidang, nama ane ga ada. Pas tanya satgas PN bogor katanya berkas ane blm diserahin ke PN bogor. Dan berkasnya msh di polresta bogor. Tanpa buang2 wktu lg ane lsg ke polresta bogor lah, dan ternyata benar SIM ane msh disana. Lsg ane tebus tuh SIM (antri sktr 15 menit).
    Yg jd pertanyaan ane, pak polisi udh nulis jadwal sidang di form merah, tp knp berkasnya ga dikirim ke PN bogor ya? Klo tau gitu kan ane ga perlu nungguin jadwal sidang alias bbrp hr sblm sidang ane tebus aja ke polresta.

    1. Itulah bro yang aneh. Dah siapin waktunya tapi taunya meleset. Kan kesel.
      Tapi kata Pak Pol di polresta, sore setelah ditilang bisa ditebus kok di polresta, titip sidang semi resmi lah.

  9. itu tahun berapa ya gan kan denda sesuai hakim nya klo dah beda tahun berarti beda denda……polisi ampe ngeset gan ane tanta2 tentang persyaratan izin penilangan ampe2 ane di tarik di suruh jalan malah mau di tendang ampe2 cewe ane ketakutan hahahaha seharus nya kan polisi menjaga ketentraman wilayah yg iya jaga kenapa saya di gituin ya padahal hak saya untuk menanyakan kelengkapan pesyaratan izin penilangan apalagi posisi nya lagi padat kendaraan………kan ada peraturan nya jika posisi lalu lintas padat oleh kendaraan polisiharus nya menertipkan lalulintas bukan nya menilang dengan tanpa alasan apa lgi saya menaati peraturan rambu lalulintas masa saya tiba2 di berhentikan tanpa alasan yg jelas hahahaah maaf ni malah curhat cuman pengen berbagi pengalaman

Leave a Reply