A copy of my mind

Review Film A Copy of My Mind : Lambat

Disclaimer: Review ini ditulis oleh penikmat film kadang-kadang, bukan ahli film, bukan juga penikmat film sejati apalagi kritikus film. Dengan sedikitnya referensi film (*ya karena nonton film juga kadang-kadang :p) sehingga semua yang dirasakan berdasarkan adalah beradasarkan seorang penikmat film amatir. Satu lagi, tulisan ini mengandung spoiler.

paisuchen, 2020
di nukil dari imdb

Setelah selesai nonton film A Copy of My Find besutan sutradara ternama Joko Anwar, saya merasakan kehampaan sambil menerka-nerka pesan apa yang ini disampaikan sang sutradara. *usap-usap kepala seperti Park Saeroyi di Itaewon Class.

Sinopsis

Film dimulai dengan Sari, karakter yang dimainkan oleh Tara Basro, salah satu artis terhot di Indonesia, sedang mem-facial customer di sebuah salon. Tergambar kehidupan pekerja salon, perbincangan mereka, interaksi mereka dengan customer.

Sari pekerja salon kecil, digambarkan memiliki hobi menonton film. Pulang bekerja ia tak lupa mampir ke toko DVD (tentu saja) bajakan langganannya.

Di sisi lain digambarkan Alek yang karakternya diperankan oleh Chicco Jerikho. Intermezo, apakah Chicco Jerikho ini orang Sunda? Alek digambarkan sebagai bagian dari industri DVD bajakan, dimana ia berperan sebagai tukang penerjemah film. Ini mengharuskan dia untuk menerjemahkan setiap percakapan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.

DVD bajakan ini mempertemukan Sari dan Alek pada suatu momen saat Sari komplain ke toko mengenai terjemahan DVD yang jelek. Kebetulan saat itu ada Alek, sehingga si pemilik toko langsung membawa komplainan Sari ke Alek sang penerjemah bahasa.

Dari situ Sari dan Alek menjadi dekat. Well, Alek yang mendekati sih dan Sari mau karena sebuah “ancaman”. Kedekatan mereka dalam film ini terlihat sangat natural. Cinta tanpa kata, diramu dalam sebuah scene yang erotis. Sial buat saya yang menonton saat berpuasa.

Konflik dimulai saat Sari pindah kerja dari salon lama ke salon baru. Di tempat baru, ia diminta untuk melayanin seorang narapidana perempuan di penjara. Karena narapidana ini bukan orang sembarangan, sel-nya pun sudah seperti kamar kos.

Satu momen saat melayani pelanggannya ini di penjara, Sari “meminjam” salah satu DVD di “kamar” narapidana tersebut. Berharap sebuah film yang bagus, begitu Sari (sambil mengajak Alek), ternyata isi filmnya adalah sebuah rapat dengan beberapa anggota dewan untuk menggolkan tujuan tertentu. Intinya, KKN.

Kehidupan rakyat kecil Sari dan Alek berubah drastis. Alek berusaha melindungi Sari dari potensi ancaman yang terjadi dengan menyembunyikan Sari di kostannya. Suatu saat Alek pergi ke kostan Sari untuk mengambil baju-bajunya, namun saat itu pula ia ditangkap oleh orang suruhan narapidana diatas. Alek diculik.

Sayangnya Sari tidak menyadari ancaman yang terjadi sampai suati ketika ia mengetahui ancaman si penculik, namun sudah terlambat. Sari akhirnya memutuskan menyebarkan video skandal si narapidana tersebut dengan jalur pelipat gandaan DVD Bajaka.

dinukil dari tabloidbintang.com

Review

Dari awal film sampai akhir, alurnya sangat lambat. Menonton film ini sebaiknya ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok. Secara visual, film ini mendekatkan penonton ke kehidupan nyata masyarakan kelas bawah di Ibukota.

Pekerja salon, tukang penerjemah DVD bajakan, industri DVD bajakan, industri salon tergambar jelas sepanjang film ini. Mungkin, sisi ini yang ingin disampaikan oleh Joko Anwar. Film bukan tidak melulu menampilkan orang-orang kaya.

Ada beberapa alur yang cukup membuat saya mengusap-usap rambut.

  1. Sex Scene
    Ini mungkin hebatnya Joko Anwar, bisa menampilkan adegan seks tanpa harus vulga, tanpa harus membuat penonton menjadi terangsang, hanya menggambarkan keintiman dari dua orang masyarakan kelas bawah yang sedang kasmaran. Ada dua kali adegan ini, dan saya cukup bertanya, apakah ini harus ada atau bumbu film? Tanpa scene ini, saya rasa film ini menjadi hambar.
  2. Konflik yang dipaksakan.
    DVD yang isinya rapat rahasia mengenai KKN? Orang suruhan yang menculik Alek? Setelah menculik Alek, kenapa tidak menyelidikinya sampai ke kostanya, malah menculik dan mengancam. Dengan konten sepenting itu, logikanya mereka akan terus berusaha mendapatkan DVD itu kembali, tapi usaha si penculik ini serba tanggun, bisa menculik tapi tidak bisa menyelidiki kasus ini.
  3. Judul film
    Sampai saat ini saya masih menerka-nerka, kenapa judulnya A Copy of My Mind? Biasanya setelah film selesai, saya akan menemukan benang merahnya. Ketika membaca judul film ini direkomendasi Netflix, saya punya ekspektasi besar mengenai film yang punya alur twist.

Kesimpulan

Setelah menonton saya mengetahui bahwa film ini diapresiasi sampai masuk ke beberapa festival film. Namun buat penikmat film yang ingin hiburan, jauhkan diri Anda dari film ini. Film ini cocok ketika Anda memiliki waktu yang cukup lapang dan mencari film yang bukan pasaran. Terlepas dari alur filmnya yang lambat, Chicco Jerikho dan Tara Basro, keduanya adalah aktor hebat terlihat di akting mereka di film ini, a Copy of My Mind.