Q n A: Bagaimana cara kakak lulus kuliah?

pertanyaan dari mas Pandhu

Saya yakin setiap orang punya cerita sendiri soal bagaimana dia lulus kuliah, dari yang melankolis sampai yang dramatis maupun pureralis. #woppo dan inilah sebuah kisah dari mahasiswa medioker yang berusaha lulus.

Semester 8, buat sebagian orang menjadi masa-masa yang penuh tekanan. Pertanyaan “kapan lulus” sudah makanan sehari-hari dan pertanyaaan “kapan nikah” sudah jadi menu sarapan para gadis muda. #ehbenergak? Tapi buat saya mahasiswa medioker semester 8 adalah surga tak terbantahkan dimana hari-hari dilewati dengan bangun tidur, sarapan, main game sampai pagi, bangun lagi dan berulang setiap hari seperti itu.

DOTa, sebuah kata yang efeknya seperti narkoba. Candu tanpa ada batas. Siapapun yang mencicipinya bisa terjerumus sampai dalam tanpa sadar bahwa setiap aliran darahnya sudah bercampur dengan “First Blood” wkkkk. Narkoba berwujud game moba inilah yang merenggut masa-masa perjaka saya yang seharusnya penuh pengalaman kerja (magang, first job dll) menjadi pengalaman gaming yang menakjubkan. Semester 8 dilewati tiada hari tanpa game, titik.

Suatu hari, melalui percakapan di Yahoo Messenger (*siapa yang ngalamin cung?) tersebutlah Icha, temen dekat sekelas di kampus. Hubungan kami selain sebagai teman adalah saya merupakan ketua kelas sedangkan Icha ini bendahara. Tentu jadinya kami jadi dekat. Ngomong-ngomong, ketua kelas ini cuman ada di kampus saya aja gak sih?Plis klo iya di kampus mu dulu ada tolong komen di bawah. Rasanya sih dulu agak ganjil, sudah mahasiswa tapi masih ada ketua kelas dan bendahara. 😀 Icha ini di hari itu menanyakan apakah saya berminat kerja?

Saya sedang berpikir-pikir untuk mencari uang sendiri berhubung sudah ganti semester dan mulai memikirkan gimana cara mandiri tentu saja menyambutnya dengan antusias, walaupun tak ada pengelaman sama sekali. Pada intinya saya ditawari untuk menggantikan kakak senior saya magang di PT Mercedes Benz Indonesia. Berbekal sebagai asisten lab, cukup menguasai perdatabase-an, linux dan programming saya cukup pede saat itu.

Singkat cerita, di tempat magang itu saya membantu membuat system dokumentasi online sebagai panduan untuk merakit mobil mercedes benz. Jadi dalam perakitan mobil mercy, jangan bayangkan seperti di Astra yang menggunakan robot, mobil mercy dirakit manual oleh tangan-tangan terampil. Oleh karenanya dibutuhkan dokumen manual untuk setiap sub assembly. 

Proses perakitan mobil mercy itu seperti ini, ada satu line produksi yang dibagi menjadi sub-sub bagian. Setiap sub bagian ada teknisi yang akan merakit sesuai bagiannya. Di awal biasanya berupa rangka, mereka harus melubangin satu demi satu misalnya untuk menaruh baut. Menuliskan nomor rangka dll. Setelah selesai, mobi didorong di line produksi yang sama ke sub bagian lainnya, misalnya pemasangan pintu. Begitu seterusnya sampai semua bagian terakit dengan sempurna. Nah setiap bagian itu ada dokumen panduan, dimana harus dipasang, pake tools nya apa saja, berapa kencang bautnya dll.

Untuk menyiapkan dokumen panduan ini biasanya dibutuhkan waktu satu bulan dan itu pun masih salah-salah karena dikerjakan manual. Dan saya dengan panduan salah satu orang dalam yang punya ide ini membuat system yang kurang dari satu jam bisa membentuk dokumen ini dengan benar. Dari satu bulan menjadi satu jam. Improvement luar biasa bukan. 😀

Tapi setelah lima bulan magang saya menjadi berpikir, kapan saya lulus jika terus asik di sana. Lalu saya memutuskan untuk tidak perpanjang masa magang dan kembali ke kampus. Dan DOTa masih merupakan teman terbaik. Wkkk, saya terjerumus kembali ke lembah game moba ini.

Sedang asik-asiknya bergame ria dengan tidak ada kemajuan skripsi sedikitpun tiba-tiba saya dihubungi untuk ditawari kerja. Belum lulus tapi ditawari kerja. Saya yang sedang gak punya uang pun jadi tertarik untuk kerja. Btw, magang saya digaji 1.5 juta, bersih ada transport, makan siang.  Tawaran kerja saya sambut kembali, dengan interview singat sang owner saya resmi kerja kembali untuk mengerjakan sebuah project di PT Telkomsel dengan gaji saat itu 2.5jt (gross).

Beberapa bulan kerja kembali saya merenung, kapan saya lulus jika terus kerja. Akhirnya saya kembali mengundurkan diri dan kembali ke kampus dengan tekad yang lebih kuat. Saat itu sudah masuk semester 10, tepatnya penghujung semester 10. Target saya saat itu adalah harus lulus tidak lebih dari 10 semester.

Hambatan terbesar skripsi saya saat itu adalah mentalitas yang inferior menghadapi pembimbing yang superior. Dosen pembimbing utama saya saat itu adalah Pak Kiki Maulana, terkenal pelit nilai, galak, ketus dan pintar. Oh ya juga teliti. *Halo Pak Kiki, tapi sekarang sih kami berteman 😀

Memang ya, apa yang kita bayangkan itu ternyata ketika dijalani tidak seburuk itu kok. Terbukti ternyata setelah intensif bimbingan, Pak Kiki sangat-sangat baik dan kooperatif dan juga lucu. Asik lah orangnya. Saya terus terang ke Pak Kiki harus selesai dalam seminggu dan dia pun asik-asik aja. Jadilah saya intensif bimbingan setiap hari. Juga dengan pembimbing kedua juga sih, ibu dosen yang terkenal cantik dan pintar. *Halo Bu Ayu, tapi sekarang kami musuh karena dia pendukung Barca sedangkan saya pendukung Madrid, haha

Seminggu yang gila, skripsi saya selesai tuh, bisa dikumpulkan dan semua syarat untuk sidak skripsi bisa dikumpulkan dengan tepat waktu. 🙂
Mencari mood-nya satu tahun, ngerjainnya cukup satu minggu. Disitu saya menyadari bahwa skripsi itu bukan soal pintar atau tidak, tapi soal mau atau tidak. Just it!

Kemudian saya sidang dengan persiapan seadanya, jadilah saya lulus dengan nilai B. Yang penting lulus, bukti lain kalau saya bukan orang yang ambisius. :p Atau bukti saya keras kepala karena saya berdebat dengan seorang dosen penguji soal mana yang lebih penting data, informasi atau pengetahuan. Saya ngotot data dulu, sedangkan dia ngotot pengetahuan. Saya berarguemen bahwa tanpa data mana ada pengetahuan, sedangkan dia secara teori memang pengetahuan yang penting. Sampai sekarang saya masih berpendapat data lebih penting loh walau secara teori pengetahuan lebih penting. Ini soal sudut pandang saja saya pikir 😛

Begitulah cerita bagaimana saya lolos dari kampus yang katanya masuk sulit keluarpun sulit. Setidaknya saya lebih baik dari senior saya, satu kontrakan bareng, angkatan tua yang lulus 14 semester. :p

Leave a Reply