Sejak punya kewajiban mudik ke Jawa Timur atau tepatnya ke Perak, Jombang tempat mertua, sebelum ini, sekalipun belum pernah naik bus AKAP. Kebanyakan kalau tidak bawa kendaraan sendiri ya naik kereta baik ekonomi maupun eksekutif semua pernah dinaikin. Jalur mudik via utara dan via selatan pun sudah khatam. Menggunakan pesawat pun pernah, meskipun cuman sendiri ya waktu itu biar cepat kembali ke Jakarta. Satu-satunya yang belum pernah ya pengalaman naik bus AKAP ini.

Segala sesuatu, apapun itu, semua pasti ada waktunya, waktu pertama kalinya, termasuk saatnya punya pengalaman naik bus AKAP ini ke Jawa Timur. Saat penjemputan kemaren jadi sebelum cerita yang ini terjadi, saya terpaksa naik bus. Idealnya naik kereta karena waktu penjemputan ini cukup sempit, saya cuti hanya tanggal 1,2,3 Juli. Booking hotel tanggal 30 Juni -1 Juli, artinya saya harus tiba sebelum tanggal 30 Juni.

Kalau mau cepat, kenapa gak pesawat?Yeh tau sendiri lah ya tiket pesawat lagi mahal banget, ke Surabaya yang dulu bisa 500-700 ribu sekarang paling murah 1juta. Coret! Naik kereta?idealnya naik kereta ekonomi yang murah, tapi tiket kereta itu gak bisa banget dadakan, semua penuh, tersisa beberapa kursi eksekutif dan harganya pun ternyata lagi mahal-mahalnya. Entah kenapa, apakah emang lagi liburan atau bagaimana, tapi biasanya kereta Bangun Karta yang paling mahal 450rb tetiba cek di situs reservasi KAI tersedia mulai dari 600ribu.

Perburuan Tiket Bus Online

Akhirnya putar otak untuk cari alternatif transportasi lainnya. Kebetulan belum pernah naik bus AKAP, jadi tertantang dong untuk cobain. Mulailah cari info bagaimana pembelian tiket bus-nya. Seingat saya waktu itu, untuk dapet tiket bus harus datang ke agen tiket bus terdekat. Tapi hei, ini zaman internet, masa sih gak ada tiket online.

Hasil googling ternyata beberapa PO seperti Rosalia Indah, Sinar Jaya sudah punya online ticketing di websitenya sendiri disini dan disini. Hasil lainnya adalah beberapa online travel agent (OTA) sudah menyediakan pemesanan tiket bisa, walaupun gak tau cara tuker tiket fisiknya ya. OTA yang menyediakan adalah Traveloka dan Redbus. Mulailah saya berburu tiket disana.

Booking ala redbus
Saya akhirnya pilih Damri via Traveloka

Keduanya menyediakan informasi yang sangat lengkap, mulai yang terpenting foto-foto bisnya, dalemannya, fasilitasnya, jam keberangkatan, jam estimasi tiba dan tentu saja harga yang transparan bebas dari calo. Sayangnya bus langsung ke Jawa Timur rata-rata berangkat mulai siang hari sampai sore hari. Tidak ada perjalanan yang dimulai setelah magrib. Karena gak mungkin ke kejar, rata-rata start perjalanan dari Terminal Pulo Gebang dan Kampung Rambutan, dua terminal terdekat dari kantor saya di Cempaka Putih.

Kalau begitu, saya harus cari cara lagi. Setelah scroll sana sini, akhirnya rute paling memungkinkan dan waktu yang paling pas adalah via PO Damri, tujuan Solo, keberangkatan dari Pool Damri Kemayoran pukul 19:30 dan perkiraan tiba di Terminal Tirtonadi, Solo pukul 08:30. Cocok banget, tidak terburu-buru. Dan sepengetahuan saya saat itu, Semarang/Jogja – Solo – Surabaya itu mudah dapat busnya dan 24 jam. Yang penting sampai Solo dulu aja, itu prinsipnya. Saya beli tiket bus Damri untuk Jakarta-Solo hanya IDR134.400 saja, murah kan.

Murah tentu saja ada konsekuensinya dong pikir saya. Googling review bus Damri ternyata banyak kurang bagusnya, dari bus yang tidak terawat, ac bocor sampai mogok. Dari situ saya menurunkan ekspektasi, apapun lah yang penting bisa sampai mertua sebelum hari Minggu, 30 Juni.

Penukaran Tiket Online ke Offline alias fisik

Pulang kantor jam 16:00 keberangkatan jam 19:30, saya masih sempat untuk ke Cempaka Mas untuk beli makan karena sedang ada promo pay day juga kebutuhan jack audio saya yang rusak lalu kembali ke kantor di Cempaka Putih. Jadinya saya pergi ke Kemayoran dari Cempaka Putih setelah sholat magrib jamak isya.

Tiba di Pool Damri Kemayoran kurang lebih pukul 19:00 via Go-Jek. Dekat banget dari kantor jadi selow. Sampai di terminal banyak calo ya, asumsi saya sih karena mereka menanyakan tujuan saya, padahal tertulis besar di sebelah kiri pintu masuk ruang ticketing. Saya pun masuk kesana.

loket bus damri kemayoran
Loket Bus Damri Kemayoran yang lebih tepat disebut resepsionis

Di dalam sudah banyak orang yang berdiri di depan meja loket. Lebih mirip resepsionis ketimbang loket, dan sialnya karena bentuknya bukan loket, jadinya orang berjejer membentuk shaf tanpa ada antrian yang jelas. Saya pun ikut menyempil disana.

Ada mas-masa disebelah saya yang kelihatannya sama-sama pakai traveloka untuk mendapatkan tiketnya. Dua petugas ticketing Damri tampak serius melihat komputer, sepertinya ada masalah, misuh-misuh sistemnya error yang menyebabkan para pembeli tiket ini resah jelang keberangkatan. Dari loket sebelah kiri yang tidak ada kemajuan saya pindah ke loket sebelah kanan sambil nembak ke staf damri.

“Mas, mau tuker tiket nih dari Traveloka”

Untungnya loket sebelah kanan ini lebih sigap. Dia langsung mengambil kertas berisi list pemesan tiket online. Dia pun menanyakan nama saya, setelah saya jawah, dia memberikan tiket fisik berisi nomor kendaraan, lokasi duduk sesuai pemesanan tiket. Oiya lupa kasih info, ketika pesan tiket, kita bisa pilih lokasi tempat duduk. Jadi untuk tukar tiket fisik tidak perlu cetak ya, tinggal sebut nama.

Ditukar ke Tiket Kertas
Ditukar ke Tiket Kertas

Keberangkatan Bus Damri Kemayoran

Sewaktu reservasi, jadwal keberangkatan bis pukul 19:30. Makanya abis magrib saya buru-buru ke pool Damri Kemayoran karena kuatir ditinggal bis. Kenyataanya bis baru berangkat pukul 20:15.

Ruang Tunggu Pool Damri
Ruang Tunggu Pool Damri
Keberangkatan Bus Damri
Keberangkatan Bus Damri

Rasanya menunggu dari pukul 19:30 sampai 20:15 lamaaaa banget. Kok gak jalan-jalan dalam hati, padahal pukul 20:00 penumpang sudah lengkap. Saya duduk di kursi nomor satu. Diantara para bismania, kursi barisan depan disebut hot seat. Kursi nomor satu letaknya persis kursi pertama di pintu bis, jadi bukan di belakang sopir.

Pelajaran nomor satu, jangan pilih nomor 1 dan 2 lain kali, lebih baik pilih kursi nomor 3. Kenapa, kursi nomor 1 dan 2 ada keterbatasan kaki. Jadi ada penghalang di depan kaki sehingga kaki gak bisa sedikitpun selonjoran, persih 90 derajat. Pegel! Begitupun kursi nomor 4, persis belakang supir walaupun bisa lihat pemandangan depan, kaki pun terbatas. Yang paling enak kursi nomor 3, masih bisa selonjoran.

Cockpit Sopir Bus
Cockpit Sopir Bus

Pukul 20:15 bis mulai meninggalkan poo. Saya baru tahu bahwa kalau perjalanan jauh seperti ini formasinya adalah ada dua supir dan satu kondektur alias kenek. Supir pertama jalan, supir kedua tidur. Yang terjaga hanya kenek. Dimana tidurnya, di lorong bis, seriusan, beralaskan kardus bekas. Dengan nyamanya supir kedua yang bertubuh agak gempal tertidur pulas.

Merayap keluar
Merayap keluar

Pemberhentian Pertama, Rest Area Banjarsari, Cirebon

Bus merayap perlahan menembus kemacetan Jakarta. Dari pool Damri Kemayoran, bus mengarah ke utara untuk masuk ke pintu tol Anco. Lalu merambat perlahan memasuk JORR, Priok.

Saya tertidur sampai dengan merasa bus keluar di pintu tol Bekasi Barat. Tapi anehnya hanya keluar dan masuk lagi ke pintu tol yang sama. Saya tak peduli, lalu terlelap lagi.

Mata saya sedikit terbuka, melihat jalanan yang asing. Ini bukan tol, seperti jalanan pantura. Sepertinya supir bis yang dari awal bolak balik melihat smartphonenya yang membuka aplikasi google maps. Canggih juga, supirnya memantau kemacetan untuk mencari jalur alternatif menghindari macet via google maps. Terberkatilah teknologi bernama internet.

Pukul 01:30 saya terbangun. Kernet bis mengumumkan kalau bus akan beristirahat sebentar di rest area. Turun dari bis dan cek google maps, saya berada di Rumah Makan Brawijaya. Di sini sudah berserakan orang-orang dari bus Damri lainnya yang sudah tiba lebih dahulu. Sebagian ada yang makan, ngopi dan tentu saja makanan sejuta umat saat perjalanan, apalagi kalau bukan Pop Mie.

Rest Area Cirebon
Rest Area Cirebon

Disini saya tidak makan, hanya sempat buang air kecil di toilet yang disediakan, gratis! Dan buanyaaak banget bilik-biliknya. Pas dicek sih, memungkinkan juga mandi disini kalau mau. Hahaha. Sekitar 30 menit, kernet pun memanggil para penumpang karena bus akan melanjutkan perjalanan.

Bus dengan nomor 3142
Bus dengan nomor 3142

Pemberhentian Kedua, Comal, Pantura

Di dalam bis yang super dingin. Ya tolong ya, kalau naik bus AKAP gini, pakailah pakaian hangat! saya kembali tertidur. Sesekali mata terbuka untuk mengecek sudah sampai mana. Yang jelas Bus keluar di sekitar Brebes.

Ada beberapa penumpang yang turun di alun-alun Tegal. Dan beberapa lagi setelahnya. Bus tidak masuk kembali ke tol tapi terus merayap di jalur pantura.

Sopir bus sejak rest area Cirebon sudah berganti, tapi supir sebelumnya anehnya tidak tidur tapi tetap terjaga. Sopir berbadan gembal mengambil alih.

Merayap di jalur pantura, jelang subuh bus melipir ke sebuah rest area sekitar pukul 04:15. Bentuknya tidak seperti rest area yang layak, hanya macam warung semi permanen dari kayu. Lebih layak untuk para sopir truck ketimbang untuk penumpang bus.

Rest Area Comal
Rest Area Comal

Tak apalah, yang penting bisa sholat subuh disini, buang air kecil karena dinginnya bis dan makan makanan sejuta umat traveler, Pop Mie seharga Rp10.000,-.

Kurang lebih 30 menit beristirahat disini, bus melanjutkan perjalanan. Masih menyusuri jalur lama pantura, bus masuk tol kembali setelah Pemalang.

Matahari sudah terbit disni, tetapi hanya satu pintu tol lalu keluar kembali di kalau tidak salah di pintu tol Kaliwungu untuk men-drop paket barang dan penumpang. Tetapi karena sang pemilik paket tidak kunjung datang, bus pun kembali masuk tol untuk melanjutkan perjalanan sampai sebelum Semarang, bus kembali keluar tol.

Terbit matahari di Pemalang
Terbit matahari di Pemalang

Semarang-Solo melipir Salatiga-Boyolali

Setelah menurunkan beberapa penumpang tujuan Semarang di terminal Semarang sekitar Krapyak, bus kembali masuk ke tol Krapyak dan lanjut ke selatan ke arah solo.

Sejak di rest area Comal, sopir bus kembali berganti. Bus perlahan merayap menanjak di tol Semarang-Solo. Tapi ternyata bus tidak langsung mengarah ke Solo, namun keluar di Salatiga.

Pemandangan gunung Merbabu dari kejauhan memang the best sih. Pantas saja tol sini dibilang tol pemandangan tol terbaik, karena pemandangannya memang semenakjuban itu.

Keluar tol Salatiga, bus menyusuri jalur klasik. Di sekitar Boyolali, saya melihat tampang-tampang Boyolali di pinggir jalan. Hahaha. Becanda ya, tapi disini ada serombongan penumpang yang turun membawa carrier. Tampaknya sih mereka adalah para pendaki gunung merbabu.

Terminal Tirtonadi Solo yang Wah

Bus terus menyusuri jalur klasik dari Salatiga-Boyolali sampaii tiba di Kartasura sekitar pukul 09:00. Dari jadwal kedatangan di Solo sesuai jadwal seharusnya pukuk 08:30, disini sudah telat 30 menit.

Beberapa penumpang ada yang turun di Kartasura sampai ke daerah kota Solo. Pukul 09:20 akhirnya bus memasuki terminal Tirtonadi Solo.

Saya cukup takjub dengan terminal yang tertata baik dan bersih ini. Terbiasa dengan terminal Baranang Siang Bogor yang duh menyedihkan, terminal Tirtonadi layaknya terminal bandara. Ada gerbang masuk, jalur keluar, dan segala fasilitasnya yang oke banget.

Terminal Tirtonadi Kedatangan
Terminal Tirtonadi Kedatangan

Dari terminal Tirtonadi, hanya berjarak 2km saya berjalan kaki ke Pasar Gede Solo yang tersohor akan kulinerannya. Saya akan tulis terpisah.

Solo – Jombang dengan Mba Eka

Setelah melipir sebentar ke Pasar Gede Solo, saya kembali ke terminal Tirtonadi dengan gojek. Yak, tenang aja, di Solo sudah ada ojek online yang siap mengantar kemana saja.

Sekitar pukul 12 saya tiba kembali ke terminal Tirtonadi di sayap timur terminal. Disini adalah terminal keberangkatan bus yang ke arah timur. Jadi dipisahkan antara keberangkatan ke arah timur dan ke arah barat.

Ruang tunggu-nya nyaman, ada kursi pijat otomatis juga disana. Dengan selembar dua puluh ribuan bisa dapat pijatan enak selama 10 menit.

Untuk ke arah Jombang ada dua pilihan bus, dua-duanya mengarah ke Surabaya. Pilihannya ekonomi AC atau patas. Pembagiannya kurang lebih seperti itulah, paling kentara ekonomi lebih cepat tapi dengan formasi bangku 2-3, pastinya lebih murah atau yang patas dengan konfigurasi tempat duduk 2-2.

Ekonomi ada pilihan sumber waras, mira dll, yang terkenal kebut-kebutan itu loh. Naik ini pasti lebih cepat sampai, antara ke tujuan atau ke rumah sakit. Hahaha

Karena ingin naik yang cukup manusiawi, akhirnya saya pilih bus patas, hanya ada satu pilihan PO Bus yaitu EKA. Eka bukan mba-mbak ya, nama PO Bus Solo-Surabaya.

Saya sudah lihat ada bus EKA di jalur keberangkatan, tapi karena kursi pijat yang bilang masih ada 2 menit lagi, jadi ya saya teruskan pijat dengan asumsi masih ada kursi disana.

Jalur Bus Surabaya
Jalur Bus Surabaya, pilihan hidup, mau atau tenang, hahaha

Setelah kursi pijat kembali ke posisi tegak, posisi aslinya yang berarti berakhir pijatan saya bergegas mendekat bus. Tapi ternyata bangku sudah terisi semua. Hahaha. Akhirnya saya harus menunggu sekitar 30 menit untuk mendapatkan bus berikutnya.

Harga tiketnya lumayan mahal ya, 80ribu. Untuk perbandingan, Bogor-Bandung saja hanya 65ribu. Tapi ternyata di tengah jalan Mba Eka mampir di sebuah rest area dan disana kami dapet kupon makan. Walaupun ala-ala tapi lumayan jugalah, saya pilih menu nasi pecel dan teh manis.

Dapet Air Mineral merk Club
Dapet Air Mineral merk Club
Di Rest Area Ngawi
Di Rest Area Ngawi
Nasi Pecel Ala-ala
Nasi Pecel Ala-ala

Akhirnya setelah menempul perjalanan non-tol sepanjang Solo-Jombang, pukul 17:30 tiba juga di Perak Jombang, dijemput istri tercinta. Dan kami pun berjalan ke rumah mertua yang jaraknya lumayan juga, tapi karena sampil melepas rindu kami berjalan berdua menyusuri jalanan di sore yang cerah itu.

Finally setelah 18 Jam Perjalanan
Finally setelah 18 Jam Perjalanan, bertemu juga dengan kesayangan setelah satu purnama terlewat

4 thoughts on “Pengalaman Naik Bus AKAP ke Jawa Timur

  1. MT says:

    satu yang jadi pertanyaan gue. itu bus damrinya ada toilet gak? soalnya gue pernah naik dari Tasikmalaya ke Semarang. Bus tak ada toilet. tersiksa banget saat mau pipis. Apalagi menyaksikan bagaimana geliat sopir bus itu nyalip kanan-kiri di malam hari. seremnya minta ampun. Total dari abis magrib saat berangkat dari Tasik, hingga jam 4 pagi di semarang, aku nggak bisa tidur barang sekejap. Super ngeri. Sejak saat itu, gue nggak mau lagi naik bus AKAP.

    Tapi kayaknya terminal damri di kemayoran mayan baguslah ya. walaupun masih lebih bagus terminal tirtonadi. abis baca full cerita ini sambil makan siang, jadi keberanian naik bus AKAP muncul lagi…

    1. ilhabibi says:

      sejujurnya Kang, gw lupa ngecek ke belakang bis apa ada toiletnya apa engga. Hahaha, jadi hampura gak bisa kasih rekomendasi.

      Soal cara bawa sopirnya, alhamdulillah sih keduanya bawanya kalem banget, jadinya gak was-was juga sepanjang jalan, relatif tenanglah. Jadi bolehlah nih bis AKAP jadi alternatif kendaraan kalau gak dapet tiket kereta.

  2. gokil, pake keluar masuk tol terus gitu ya sekarang, karena macem2 tujuan penumpangnya kali ya, ada paket juga, wkwk

    1. ilhabibi says:

      biar okupansinya bagus kali ya bong, jadi semua yang sejalur diangkut, wkkk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website