life is journey that you can't rewind

Papua Surga Ekowisata Indonesia

Lampu lorong kabin pesawat telah dimatikan. Setelah itu saya mencoba terlelap di kursi penumpang bagian tengah, di kursi yang bersisian dengan lorong kabin pesawat. Bunyi konstan mesin jet tidak mampu membuat saya tidur layaknya sebuah metronome yang seharusnya membuat mengantuk siapa pun yang mendengarnya. Jantung saya berdebar, dalam hati saya berseloroh “oh begini ya naik pesawat”.

Tidak lama badan pesawat bergetar, jantung saya berdebar. Lebih kuat dibanding saat pesawat melakukan take off di bandara Soekarno Hatta tadi. Saya sorongkan kepala saya ke Lorong, mencoba mencari jawaban apa yang terjadi. Semua orang tetap pada kursinya, dari bola mata saya, terlihat masing-masing penumpang sudah terlelap tidur karena memang pesawat saat itu berangkat pukul 00:30 dini hari.

Perjalanan itu merupakan pengalaman pertama saya dengan menggunakan pesawat terbang. Itu terjadi pada tahun 2011. Walaupun selintas terpikir horornya naik pesawat, namun untuk melamar sang gadis pujaan, semua itu harus dilalui. Penerbangan Jakarta-Sorong akan transit di kota Ambon. Jika tidak salah jadwal, pesawat akan landing pukul 06.00 WIT di kota Ambon.

Pesawat mendarat di kota Ambon di pagi hari. Sudah ada sinar matahari. Setelah turun dan menunggu di ruang boarding, saya lalu menaiki pesawat selanjutnya, sebuah pesawat twin otter alias pesawat baling-baling. Pesawat tersebut berbeda maskapai dari yang sebelumnya walaupun masih dalam satu group. Saya cukup heran, tapi tidak terlalu memperdulikan karena pesawat tersebut merupakan pesawat pertama yang akan membawa saya untuk pertama kalinya ke tanah papua.

“This is captain speaking…bla bla bla…we will arrive at Domine Eduard Osok Airport in 45 minutes” suara gemeresak khas speaker pesawat mengawali perjalanan singkat dari Ambon ke Sorong.

Pesawat twin otter terbang rendah di ketinggian maksimum yang bisa diraihnya. Awan-awan putih berada sejajar dengan jendela pesawat. Daratan Papua mulai terlihat, dan semua warna hijau mendominasi pemandangan dari jendela pesawat yang terbuka. Oh begini tanah Papua, sungguh memikat di pandangan pertama. Jika Papua adalah wanita, besar kemungkinan ada ia adalah cinta pada pandangan pertama.

Momen itu adalah hari dimana saya melamar mantan pacar yang sekarang sudah menjadi ibu bagi anak-anak saya saat ini. Semua berjalan lancar, calon bapak mertua saat itu mengiyakan. Namun karena saat itu belum halal, tidak banyak yang bisa lakukan bersama sang pacar. Berdasarkan rencana selanjutnya, kami akan menikah pada bulan Agustus, sekitar lima bulan dari saat itu. Artinya, saya akan kembali menginjakan kaki di tanah papua untuk yang keduakalinya.

Lima bulan berselang, seperti kebanyakan calon pengantin, ada tantangan dan ujian. Namun ada pepatah mengatakan “Kalau jodoh, pasti ada jalan.” Terbukti sampai dengan hari H, semua berjalan lancar kecuali hari lebaran yang terpaksa ditangguhkan. Rencana hari H+1 lebaran adalah resepsi, namun karena ada penggenapan Ramadhan kami mengadakan resepsi di hari H lebaran. Sungguh pernikahan yang aneh bukan. 😀

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah kemana kami akan berbulan madu? Walau kota Sorong merupakan kota terdekat untuk mencapai Raja Ampat, surga ekowisata pujaan dunia, namun apa daya kami pasangan muda yang untuk menikah saja merogoh kocek sangat dalam hasil dari kerja kami berdua. Raja Ampat menjadi sebuah angan-angan saja, bahkan sampai saat ini.

Ekowisata menuru Wikipedia adalah alah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Saya rasa memang sudah sepantasnya surga Papua dengan  segala potensi keindahan alamnya harus dijadikan sebuah ekowisata atau akan rusak jika masih menggunakan paradigma pariwista konvensional. Alam Papua sungguh indah, ini terbukti kami tidak mesti jauh-jauh ke Raja Ampat untuk menikmati alam papua. Sebuah pulau yang menjadi destinasi kami untuk “berbulan madu” setelah menikah yang akan membuktikannya.

Mentari, nama sahabat istriku, orang papua asli, maksudnya lahir, kecil dan besar di tanah papua. Dari penampilan fisiknya dipastikan bukan dari suku asli tanah Papua. Ia mengajak kami berdua yang pengantin baru untuk pergi ke sebuah pulau dekat dengan kota Sorong dengan menyewa Johson.

Johson buat orang Sorong merujuk pada sebuah long boat yang kebanyakan bermesin merek Johson. Kamu tahu, semacam “bulao” merujuk pada sabut merk Blue. Penyebutan istilah dengan kearifan lokal. Sebuah ekowisata yang saya rasa hanya diketahui oleh warga lokal saja dalam hal ini warga Sorong.

Letaknya tidak jauh dari dermaga kota Sorong, untuk kesana kamu menyewa Johnson seharga 400ribu. Pada hari yang ditentukan kami berkumpul di sebuah dermaga. Sebelum ke pulau yang menjadi tujuan ekowisata, kami singgah di Pulau Doom nama resminya. Entah kenapa namanya Pulau Doom. Saya belum menemukan jawabannya hingga saat ini.

Selesai bermain-main di Pulau Doom kami kembali menaiki Johnson. Tka lama mesin kapal berteriak nyaring, kapal kecil kami menembus ombak, terayun-ayun naik turun mengikuti gelombang. Percikan air memasuki tengah kapal, mau tidak mau kami menutup sisi kapal dengan plastik yang disediakan, supaya tidak terlalu berangin dan basah. Sekitar 30 menit terpental-pental di dalam Johnson akhirnya perahu melambat. Sebuah pulau eksotis yang menjadi tujuang kami terlihat. Di sisi kanan dari arah kami merupakan sebuah tanjung dengan pasir pantai yang putih sekali. Menengok sisi kiri dari arah kami, merupakah sebuah bukit kecil dengan hutan rimbun.

Pengantin muda di Pulau Matan, melihat foto ini menyadarkan betapa mudanya kami saat itu 😀

Pulaunya tidak begitu besar, jika saya berlari mengelilingi pulau, rasanya tidak akan sampai 10 menit maka saya bisa mengeliling pulau tersebut. Bentuknya seperti pistol, dimana ujung larasnya merupkan tanjung pasir putih yang tadi saya jelaskan dan gagangnya merupkan hutan. Sebuah ekowisata yang indah sekali. Pulau tersebut bernama pulau Matan.

Saat tulisan ini dibuat, saya mencoba mencarinya di mesin pencari dan menemukan bahwa kini Pulau Matan sudah mempunya dermaga yang menjorok ke laut, tempat kapal menambatkan diri. Padahal saat itu Johnson tidak bisa merapat ke pulau sehingga kapal berada sedikit ke tengah laut lalu kapten Johnson akan menurunkan semacam tempat pijakan kaki untuk menuju pantai sehingga sudah pasti bagian bawah pakaian kami akan basah.

Selain dermaga, Pulai Matan berdasarkan mesin pencari kini sudah memiliki gazebo atau beberapa pondokan yang dibuat dari kayu. Di tahun saya kesana, untuk membilas diri hanya ada semacam panggung dari kayu, sebuah timba dan sumur dengan  dinding kain. Saat istri saya harus membilas diri, saya terpaksa harus menutupi dirinya dengan kain sarung.

Dilihat dari informasi-informasi terkini, bersyukur sekali bahwa Papua menggunakan pedekatan ekowisata dalam mengembangkan pariwisatanya. Bisa dibayangkan, Pulau Matan hanyalah satu dari sekiran ribu pulau yang ada di Papua, dan itu saja sudah indah, betapa Papua dalah surga ekowisata Indonesia.

Untuk mengembangkan sebuah ekowisata tentu saja harus melibatkan banyak pihak baik dari pemerintah, warganya maupun lembaga atau sebuah yayasan. Salah satunya adalah EcoNusa, sebuah yayasan yang bertujuan untuk mempromosikan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan adil di Indonesia dengan memperkuat inisiatif lokal.

Yang menjadi pertanyaan adalah kapan saya dan kini dengan keluarga kecil saya bisa kembali ke tanah Papua? Sungguh saya rindu.

2 Comments

Add Yours →

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.