Ngopi di Warung Kopi

Sejatinya urusan minum kopi bagi orang Indonesia adalah sebuah kearifan lokal. Sebut saja dari ujung barat Indonesia sampai ujung timur urusan minum kopi ini adalah sebuah budaya. Saking membudayanya minum kopi pun biji kopi dari sebuah daerah menjadi nama kopi itu sendiri. Sebut saja Aceh Gayo, Sidakalang dari Sumatera Utara, sampai dengan kopi Papua. Indonesia sangat kaya akan kopi.

Urusan minum kopi di beberapa daerah pun sudah menjadi akar gaya hidup di daerah tersebut. Salah satu yang terkenal yaitu di Belitung. Dengan lugas Andrea Hirata di seri buku Laskar Pelangi menjelaskan dalam novelnya bagaimana urusan ngopi di warung kopi sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakat Belitung. Saban sore sampai tengah malam deretan warung kopi dipenuhi berbagai manusia dari berbagai macam golongan dengan aktifitas ngobrol sebagai menu utamanya. Ngobrol atau lebih tepatnya ngerumpi menjadi bagian dari kegiatan ngopi itu sendiri. Berbagai topik dibahas mulai gosip rumah tangga sampai urusan negara yang semakin dibahas semakin tidak ketemu titik pangkalnya. Hehe.

Sejak dulu masyarakat Indonesia sudah punya budaya ngopi. Tapi kearifan lokal ini untuk beberapa tahun agak kebelakang, kira-kiranya pertengahan tahun 2000 ke belakang agak terlupakan. Bisa jadi karena di tahun-tahun itu kita lebih banyak melihat budaya luar ketimbang mengangkat budaya sendiri.

Terimakasih pada Starbucks 😛

Sepertinya kita memang harus berterimakasih pada Starbucks, sebuah gerai kopi dari Amerika yang sangat amat booming di akhir tahun 2000an. Sejak kemunculannya, budaya ngopi di Indonesia semakin mengudara. Awalnya sebagian dari kita belum menyadari bahwa ngopi sejatinya budaya kita sendiri, tapi dari Starbucks lah suka atau tidak membawa urusan ngopi ke tahapan saat ini dimana setiap sudut kota bermunculan warung kopi (coffee shop) lokal. Di Bogor sendiri saja ada lebih dari 20an warung kopi lokal.

Sejatinya warung kopi saat ini merupakan jelmaan warung kopi tradisional yang naik kelas. Naik kelas dari pemilihan biji kopi terbaik, peralatan pembuatan kopi yang mengikuti standar internasional sampai dengan tempat yang tidak lagi dipinggir-pinggir jalan, emperan toko dan gubuk-gubuk sederhana, melainkan mall atau minimal ruko dengan tingkat kenyamanan yang meningkat.

Masing-masing warung kopi ini pun menawarkan konsep yang berbeda. Ada warung kopi yang persis menawarkan konsep yang sama dengan Starbucks namun dengan menjual brand “lokal”. Ada pula yang serius dalam urusan biji kopi dan cara penyeduhan. Lain warung kopi, ada pula yang menawarkan tempat yang super duper nyaman untuk berlama-lama menikmati tempat minum kopi tersebut. Semua kembali pada customer, preferences seperti apa yang dicari.

Di Bogor ada beberapa warung kopi yang saya referensikan. Jika cari tempat yang nyaman dengan kopi dan pilihan minuman lainnya yang tidak terlalu serius bisa mendatangi Popolo. Tempatnya sangat-sangat nyaman. Jika penikmat kopi serius, ada Rumah Kopi Ranin yang menawarkan banyak biji kopi terbaik dengan cara penyeduhan yang lengkap, dari tubruk sampai dengan menggunakan syphone *cmiiw sebagai filternya. Atau Keuken Coffee dimana harga yang relatif murah dan tempat yang asik buat ngobrol.

Dan hari ini bertambah lagi referensi warung kopi di Bogor. Nama tempatnya Labirin Coffe, baru saja 4 bulan dibuka tapi pengunjungnya ajaib padahal ukuran dan tempatnya sangan minimalis. Buat saya pribadi Labirin Coffee paling mendekati warung kopi warisan budaya Indonesia. Karena menurut saya, warung kopi Indonesia menawarkan kopi yang baik dan keramahtamahan khas Indonesia dimana setiap pengunjung bisa berinteraksi dengan dengan pengunjung lain juga interaksi pada si penyeduh kopi (barista) itu sendiri yang selain sebagai penyeduh juga sebagai tuan rumah warung kopi. Labirin Coffe akan dituliskan dalam tulisan berbeda karena buat saya warung kopi satu ini mematahkan kebanyakan konsep warung kopi yang ada. 🙂