Merayakan Kemerdekaan RI

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang biasanya saya rayakan dengan menonton upacara HUT Kemerdekaan RI di Istana, kali ini saya mengambil jalan berbeda. Sebagai “budak strava” (akan dibahas lain kali), di hari Minggu saya di-mention oleh Mas Agha untuk mengikuti challenge dari StriveIndonesia dengan tajuk Merdeka Virtual Run/Ride.

Strive Indonesia sendiri adalah brand dari supleman makanan bernutrisi tinggi berbentul bar dan gel. Saya sendiri gak terlalu mengetahui produknya, saya lebih fokus pada challenge yang mereka lontarkan. Merdeka Virtual Run/Ride digagas oleh Strive Indonesia dengan konsep setiap pelari/pesepeda melakukan aktivitas lari/bersepeda di tempat masing-masing baik indoor maupun outdoor, terserah. Yang menjadi patokan adalah untuk tantangan lari diminta minimal 17,8 km sesuai tanggal kemerdekaan Indonesa sedangkan untuk bersepeda dipatok minimal 76km seperti umur kemerdekaan Indonesia.

Dari dua challenge tersebut saya pilih bersepeda sejauh minimal 76km. Jadi sejal malam sebelum 17 Agustus saya sudah minta izin ke istri untuk melakukan challenge tersebut. Oh iya, alasan saya pilih bersepeda ketimbang lari adalah karena lari adalah olahraga high impact dimana lutut saya masih merasa bermasalah, maka akan lebih aman untuk bersepeda. Setelah izin diperoleh barulah saya membayangkan rute yang akan ditempuh. Jarak 76km bukan jarak yang pendek, jadi perlu dipikirkan rute yang lumayan jauh dan tidak membosankan.

Setelah dipikirkan dibayangkan akhirnya saya putuskan untuk mengambil rute ke arah Ciseeng, jadi dari Jalan Raya Parung belok kiri di Jampang ke arah Ciseen, lalu ambil kiri lagi ke arah Putat Nutug lalu belok kiri lagi ke Ranca Bungur dan tembus di Atang Sanjaya, setelah itu masuk ke kota Bogor lagi.

Persiapan yang saya lakukan sebetulnya mulai dari jam 5 pagi, tapi yang menjadi lumayan kendala adalah update software dari Amazfit Band 5. Entah kenapa dari semalam selalu gagal update, padahal saya berniat menggunakan Amazfit Band 5 ini untuk memonitor hear rate sepanjang perjalanan dan ya juga jarak, walaupun bisa juga di Strava sih. Tapi dengan smartband ini mestinya jarak yang ditempuh bisa mudah dimonitor karena tinggal cek interfacenya di pergelangan tangan tanpa perlu mengeluarkan smartphone. Yah itu karena masih terkendala akhirnya baru bisa start jam 6.15 itupun dengan problem yang tidak selesai. Biarkanlah, pakai Strava saja.

Sepeda Pinjaman, Sarung Tangan, Helm dan TWS

Gowes kali ini saya tekadkan melalu jalan raya yang umum-umum saja, tidak mencari jalan aneh-aneh karena targetnya adalah jarak, bukan perjalanannya. Jadi keluar dari BNR saya teruskan ke BTM, ke Merdeka lalu lurus menuju Jalan Raya Parung. Beberapa kali berhenti karena masih penasaran dengan update Amazfit Band yang gak selesai-selesai.

Kala memasukin Jalan Raya Parung saya berpapasan dengan banyak pesepeda yang mengarah ke Bogor. Sempet membatin bahwa enak banget ya pake road bike, pasti gowesnya gak akan seberat ini. Itu karena saya melihat mereka yang pake road bike sungguh terlihat flawless dan effortles dalam bersepeda. Kayaknya tuh sekali gowes bisa beberapa meter dan kelihatan gak pake banyak tenaga gitu.

Petaka terjadi di perempatan Ciseeng dimana rem belakang saya tidak menggigit lagi alias jebol. Sempat ingin melimpir ke bengkel sepeda yang mana tidak ketemu-ketemu juga sepanjang jalan dan mikir juga kalau diperbaiki dulu akan buang waktu, sementara saya menargetkan jam 10.10 sudah finish di 76km.

Dengan rem belakang yang jebol, saya memutuskan untk tetap menempuh perjalanan, namun kali ini ekstra hati-hati, semua harus dalam kontrol kecepatan yang mampu dihentikan satu rem saja.

Setelah masuk kembali ke kota Bogor, saya memasuki daerah ring KRB melalui jalan Ahmad Yani. Selama ini jika melewt jalan tersebut rasanya datar. Tetapi setelah dilewati dengan menggowes, OMG itu jalanan nanjak ternyata selama ini. Memang kalau bersepeda atau berlari akan menemukan jalanan-jalanan yang biasa kita lewati ternyata oh nanjak, oh turun.

Tiba di depan Istana Bogor, masih kurang 12km untuk mencapai 76km. Jarak keliling KRB 4,1 km. Sempet terpikir untuk bisa nih keliling KRB 4 kali maka pas 76km dan finish di depan Istana. Keren banget kan. Tapi setelah satu keliling KRB baru menyadari bahwa ada dua tanjakan yang berat banget kalau harus dilewatin 3 kali yaitu tanjakan di Jalan Jalak Harupat dan tanjakang di Jalan Otista. Di putaran kedua saya lalu belok ke Jalan Suryakencana karena memutuskan untuk finish di rumah aja deh.

Memang sudah takdir kali ya, padahal gak direncakan begitu-begitu amat, jelan titik start yaitu di rumah, jarak yang ditempuh adalah 75,90km, kurang 10 meter!!!! untuk dapet 10 meter saya mengide untuk melewati sedikit titik rumah sejauh 5m lalu balik lagi. Dan benar, pas masuk rumah depan teras, km di aplikasi Strava menunjukan 76,00km. Misi tercapai.

Apa rasanya menempuh jarak 76km dengan MTB? Wah rasanya gak percaya sih sebenernya. Satu hal yang selalu saya lakukan untuk setiap misi yang rasanya mustahil adalah dengan engga memikirkan hasilnya dan menikmati setiap proses perjalananya sampai tiba waktunya, ah tercapai juga. Dirgahayu RI ke 76, Merdeka!!! dan lalu memikirkan tahun depan ngapin ya. 😀

Dan dibawah ini adalah video menyelesaikan challenge Merdeka Virtual Run/Ride dari Strive Indonesia.

https://www.instagram.com/p/CSqaFMylA2v/?utm_source=ig_web_button_share_sheet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.