Pertama-tama, kita semua sepakat untuk memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk skuad timnas AFF U-22 asuhan coach Indra Sjafri yang kemaren malam, 27 Februari 2019, bertempat di Stadion National, Phnom, Penh, Kamboja berhasil merebut piala AFF kelompok umur U22 dari tangan tim kuat Thainland dengan skor 2-1.

credit : LabBola

Piala ini menjadi penyejuk bagi masyarakat bola Indonesia di tengah-tengah gaduhnya kasus mafia sepakbola yang nyata-nyata menggerogoti nilai sportifitas sepakbola bola tanah air. Ketika satgas anti mafia bola berjalan menangkapi para terduga pengatur skor, anak-anak Garuda Muda (julukan Timnas Indonesia U22) mencuri perhatian dengan sebuah prestasi yang luar biasa.

Disebut luar biasa karena sebenarnya skuad Garuda Muda tidak diperkuat pemain-pemain bintangnya yaitu Sadil Ramdani (Pahang FC, Malaysia), Eggy Maulana Vikri (Lechia Gdansk, Polandia), dan Ezra Walian (RKC Waalwijk, Belanda). Alasan ketiganya adalah tidak mendapatkan izin dari klubnya masing-masing karena turnamen AFF U22 ini tidak masuk ke kalender FIFA.

Absennya tiga bintang timnas usia muda ini tidak membuat kehilangan, karena ini Indonesia, negara yang selalu memunculkan bintang baru di lapangan. Siapa dia? Marinus Maryanto Wanewar, putra asli Papua, Indonesia. Perlahan tapi pasti nama Marinus Wanewar menghiasi judul pemberitaan dan menjadi sorotan. Terlepas dia tidak mencetak gol di laga final, namanya terus disebut di lini massa untuk kontribusinya di lapangan.

Buat pencinta timnas Indonesia, iya pencinta karena tidak sedikit juga masyarakat Indonesia yang hobi bola tapi acuh terhadap timnas Indonesia, nama Marinus sudah terdengar saat SEA Games 2017. Keributannya dengan official timnas Kamboja memjadikan brand dirinya anak nakal / “bad boys”. Saat itu Marinus yang sepanjang pertandingan mendapat provokasi membalasnya dengan memegang kemaluannya di depan bench Kamboja. Seperti yang sudah diduga, terjadi keributan akibat ulahnya. Sampai-sampai coach Luis Milla saat itu yang menangani timnas U22 harus meminta maaf kepada lawan. Catatan ia saat itu jelas, Marinus harus menjaga emosinya jika ingin pemain besar di masa yang akan datang. Artinya coach Milla sudah melihat potensi besar yang dimiliki seorang Marinus Maryanto Wanewar.

Dua tahun berselang, Marinus kembali ke timnas namun perubahan yang terjadi membuat terkejut banyak orang dalam artian positif. Marinus di lapangan tetap menjadi sasaran provokasi lawan, lihat saja sepanjang pertandingan Indonesia vs Kamboja, bek-bek lawan dengan sengaja mengasari Marinus, tujuannya satu, supaya Marinus emosi dan merugikan timnya sendiri.

Tapi kini Marinus anak baik, niat lawan yang memprovokasi Marinus tidak diamininya, malah sebaliknya Marinus yang membuat jengkel lawan dengan tingkah polahnya di lapangan, dari selebrasi gol-nya dengan menari-nari di depan bench lawan sampai dengan respon senyumnya yang manis ketika diprovokasi lawan.

Hal yang sama terjadi di laga Indonesia vs Vietnam dan di laga final melawan Thailand. Marinus yang dicurigai melakukan pencurian umur menjadi sasaran provokasi lawan. Lagi-lagi, bukannya meladeni, Marinus malah balik memprovokasi lawan dengan tingkahnya. Ada satu kejadian yang membuat saya tertawa geli saat melawan Vietnam. Di menit-menit akhir, Marinus mendapatkan bola di sisi pertahanan sendiri, dengan niat men-delay waktu, dia coba keep the ball, memaksa pemain Vietnam melakukan tekel sampai Marinus terjatuh. Setelah terjatuh, pemain Vietnam menendang bola dengan sangat keras ke arah kepala Marinus yang sedang tergeletak di lapangan. Normalnya, pemain akan emosi, yang dilakukan Marinus, dia berdiri, protes ke wasit (alih-alih ke pemain lawan), dan ketika pemain Vietnam marah-marah, Marinus malah bertepuk-tepuk tangan seakan-akan sedang memanas-manasi lawan. Itu cerdas!

Jika ada man of the tournament, saya yakin pemain yang layak mendapatkan penghargaan ini adalah Marinus Maryanto Wanewar. Bukan hanya Marinus sekarang jadi anak baik tapi juga kontribusi si striker jangkung ini. Dengan badan besar, sebagai striker Marinus berhasil menjadi tembok pantul para pemain di lini kedua, bola tidak gampang lepas ketika sudah mencapai dirinya. Pressing ketika kehilangan bola pun ia lakukan tanpa mengenal lelah, dia tahu apa yang harus dilakukan dilapangan. Dan terlebih lagi ketika tim harus bertahan, Marinus tidak ragu untuk turun bertahan dan melakukan intercept-intercept bersih. Mungkin apa yang dikatakan host RCTI saat pertandingan final semalam benar adanya “Marinus baik, timnas baik”. Mari berharap bintang Marinus akan semakin bersinar ditengah krisis striker lokal di timnas level senior.

2 thoughts on “Marinus Baik, Timnas Baik

  1. MT says:

    Marinus Baik, dia adalah bintang kita. Semoga semakin berbinar di setiap laga.

    1. ilhabibi says:

      Amin. Kuharap begitu, supaya timnas senior punya striker lokal andalan, mosok mesti naturalisasi terus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.