Labirin Coffee

Labirin Coffee
Labirin Coffee

“Coffeeing The World”, sebuah tagline tertulis besar-besar di sebuah pojokan bangunan Gedung Alumni IPB Baranangsiang. Tempatnya yang nyempil di pojokan belakang sebuah gedung itu tidak membuatnya menjadi sepi. Lika-liku menuju pojokan ini jugalah yang mengilhami Fahmi Khamini alias Fahmi si otak dari berdirinya Labirin Coffee. Selain otak dari warung kopi, ia juga menjadi jiwa dari tempat ini. Fahmi bisa diibaratkan sebagai Weasel di film Deadpool.

Perkenalan dengan Labirin Coffee diawali oleh cuap-cuap bombastis dari teman saya Bayu Gila. Dengan gayaknya yang kadang-kadang saya merasa malu sebagai temannya itu. 😛

“Pay, lu harus coba tempat ngopi baru ini. Tempatnya engga banget, tapi suasanya itu yang bikin orang betah” sulut Bayu Gila berapi-api di Maraca Cafe.

“Namanya apa?”

“Nah itu dia Pay, gw lupa. Pokoknya tempatnya di belakang dulu Kedai Telapak di Gedung IPB” timpal si Gila.

“Ya udah ntar kesana. Awas lu ga enak!” saya mengancam si Gila.

Hingga hari itu yang mana seperti biasa, kalau teman saya ini ngajak nge-date. Maka hukumnya harus. Dibanding ditagih terus, maka hari itu saya yang nagih.

“Ayo Bay maen, ke tempat yang lu bilang itu ya. Malam ini!” ajak saya.

“Gw inget Pay, namanya Labirin Coffee! Ok”

Sapi! Udah seminggu dia baru inget.

Setelah perizinin ke Polda alias Polisi Dapur, malam itu pun janjian bertemu teman saya satu ini di Gedung Alumni IPB. Tak lama dia datang lalu mengajak saya ke arah Kedai Telapak lalu berbelok ke belakangnya. Disitu mulai disambut dengan deretan set meja kursi. Semua terbuat dari kayu yang dibuat asal-asalan tapi malah terkesan artistik. Ga ada kesan mewah atau nyaman seperti kebanyakan warung kopi yang tumbuh menjamur seperti roti yang seminggu dibiarkan berjamur.

Di sebuah pojok berukuran kurang lebih 3m x 4m dan ada tulisan “Order Here” tertutup dinding kaca, terlihatlah dapur warung kopi Labirin Coffee. Dengan ukuran tempat seperti itu, dapurnya cukup lengkap sebagai warung kopi yang sudah di upgrade. Beberapa mesin kopi dan perlengkapan penyeduhan juga meja kasir tertata berantakan. 😛 Tapi disitulah asiknya, para penyeduh kopi saat itu sedang asik mempersiapkan pesanan para penikmat kopi malam itu.

“Ah ga ada orangnya” sambut si Bayu Gila.

“Harusnya ada dia nih, dia yang bikin rame” cerocosnya.

“Ah ini dia, wah kayaknya dia sakit apa ya” menunjuk sesorang yang sedang tidur di balik meja kasir.

Supaya tidak mengganggu kami pun tetap ke tujuan utama kami. Ngupil! ya enggalah, ngopi!. Di sebuah papan yang terletak di didinding, terdaftarlah menu minuman yang bisa saya pesan. Menu kopinya lengkap seperti kebanyakan warung kopi, dari kopi hitam biasa sampai minuman non kopi seperti Green Tea dan kawan-kawan. Malam itu saya pilih Coffe Latte.

Sejujurnya saya bukan penikmat kopi sejati, karena buat saya kopi yang enak itu kopi yang rasa kopi. *Cerdas!. Tingkat keasaman, aroma, dan pahitnya kopi yang beraneka ragam, buat saya seperti sebuah kehidupan, ga perlu dipilih-pilih, cukup dinikmati saja apa yang kita pilih saat itu. Cadas!

Setelah memesan kami berdua keluar dari dapur kopi, karena pojok ruangan 3m x 4m itu tidak ada tempat untuk duduk dan berleyeh-leyeh sambil ngomongin prospek bisnis milyaran atau membahas topik yang kekinian. 😛 Semua meja dan kursi adanya di luar gedung, jadi jangan berharap ada AC atau bahkan kipas sate sekalipun. Gak ada! Bahkan menurut cerita, kalau sedang penuh ya ngopi pun dilanjutkan di pembatas taman yang jadi tempat dudukan di areal parkiran motor. 😀

Kami memilih duduk di depan dapur Labirin Coffee, di sebuah kursi dengan meja yang cukup panjang. Sebenarnya di meja itu ada sekumpulan anak muda awal 20an yang sedang asik berdiskusi. Hasil curi dengar sih sepertinya sekumpulan anak muda pegiat IT.

“Oracle itu saya yang ajak kerjasama” Bla..bla..bla..ucap salah satu lelaki muda berapi-api seperti sedang presentasi di depan calon investor. Padahal sih yang mendengar ya temennya juga,hehe.

Tak lama kami duduk.

“Aha..ini Pay si yang bikin rame. Kenalan dulu dong. Coba tebak umurnya berapa” si Bayu Gila itu bertanya pada saya sembari menarik lelaki yang pada akhirnya saya tau bernama Fahmi. Kenapa saya bisa tau?Itu karena dia sebut namanya tentu saja.

“23” jawab saya asal.

Lelaki bercelana jeans pendek dan bercelemek itu cengar-cengir. Tebakan saya saat itu, sepertinya bukan orang Bogor.

“Tuh mas Bayu, muka gw muda kan!” sambutnya sambil tertawa.

“Jir Pay, dia nih dah punya anak satu!” si Bayu tak terima dengan tebakan saya.

Kemudian lelaki muda yang tampangnya sih agak boros sebenernya *damai Mas Fami 😛 * duduk bersama saya dan Bayu. Darinya saya jadi tau sedikit sejarah Labirin Coffee ini terbentuk.

Mas Fahmi ini sebelumnya di pertengahan 2015 seingat saya, baru saja belajar menjadi barista (penyeduh kopi) pada salah satu barista berpengalaman. Tak lama setelah menjalin pelatihan berat yang konon katanya belum bisa mencicipi kopi kalau belum muntah buat merasakan kopi, ia bekerja di salau satu warung kopi di Cibubur. Tak lama setelahnya dengan modal nekad dan tagline “Coffeing the World” akhirnya dengan nekat dan tanpa planing ia memberanikan diri membuka warung kopi sendiri. Tentu dengan bantuan teman-temannya.

Mas Fahmi yang asli Pemalang, Jawa Tengah berprinsip, jangan terlalu banyak berencana, maka ia mulai dengan aksi, yang penting jalan dulu. Menurut dia, seiring waktu, baru membuat perbaikan-perbaikan untuk mencapai tujuan awalnya. Lalu tibalah saat pemberian nama, saat itu tempat di pojokan Gedung Alumni IPB sudah didapat dan dalam tahap persiapan. Sampai akhirnya tercetus kata Labirin. Kenapa Labirin?Alasan pertama adalah tempatnya, untuk mengakses Labirin Coffe, jika Anda dari Botani Square, maka harus bejalan melewati parkiran Bus Damri, lalu ke arah parkiran motor Damri. Dari situ haru agak sedikit memutar ke arah belakang gedung, barulah sampai di warung kopi ini.

Jalannnya berliku sangan pas diwakili oleh kata Labirin. Filosofi lainnya adalah tentang perjalan hidup Mas Fami ini sendiri dalam membuka warung kopi ini penuh lika-liku. Jadilah Labirin Coffe sebagai nama pas yang mewakili tempat dan sejarah warung kopi ini.

Mas Fahmi ini pun bercerita tentang harga minuman yang relatif murah dengan kopi sungguhan. Sungguhan dalam artian kopinya berasal dari biji kopi dengan kualitas yang baik dan diseduh dengan cara yang baik pula. Tentu saja range harga belasan ribu sampai dua puluhan ribu menjadi harga yang cukup murah jika dibandingkan dengan warung kopi lainnya. Sampai-sampai suatu hari ada seorang ibu yang memesan kopi disitu dan bercerita bahwa dia pernah punya restoran dan dia heran, dari mana untungnya dengan harga minuman yang murah.

Mendapat pertanyaan seperti itu, Mas Fahmi ini menjawab bahwa keuntungan yang banyak tidak akan berarti apa-apa dibandingkan dengan kepuasan pelanggan. Jika harganya dinaikan, belum tentu orang-orang masih bisa menikmati kopi buatannya. Si Ibu pun tidak bisa berkomentar lebih banyak.

Tempatnya tidak nyaman-nyaman banget, kopi-nya ge serius-serius amat. Tapi benar statement si Bayu bahwa Labirin Coffee menawarkan sesuatu yang tidak ada di tempat lainnya, yaitu suasana ngopinya. Menuru saya Labirin Coffee adalah sebenar-benarnya warung kopi yang diupgrade secara kopi dan tempatnya. Budaya ngopi Indonesia yang menjadikan warung kopi tempat berinteraksi sosial, terjadi disini. Pelanggan bisa ngobrol dan kenal dekat dengan para penyeduh kopi yang juga sebagai tuan rumah. Dan dengan keterbatasan tempat, para pelanggan di Labirin Coffee harus saling berbagi tempat sehingga interaksi antar manusia di tempat itu tak terhindarkan. Paling tidak ada sapaan “Hai, boleh gabung duduk disini” J Dan lalu ocehan pun bisa berlanjut sampai malam.

Yang asik lainnya di tempat ini adalah para pelanggan bisa membuat kopi sendiri. Yap, dengan harga kopi yang sama, pelanggan bisa membuat kopinya sendiri dengan dipandu dan dibantu oleh para barita Labirin Coffee. Jangan sungkan untuk minta diajarkan menyeduh kopi. Karena menurut Mas Fahmi, berbagi ilmu itu tidak ada ruginya. Dalam membuat kopi, lanjutnya, walaupun kopinya dari biji kopi yang sama, gramasi yang sama, mesin yang sama, cara yang sama, lain tangan maka lain pula rasanya. J

Kalau kamu di Bogor dan ingin ngopi sambil berkenalan dengan teman baru atau sekadar ngobrol dengan orang baru, sangat saya sarankan untuk ke Labirin Coffee ini dan bertemu dengan Mas Fami, sang tuan rumah. Meluncur segera ke Gedung Alumni IPB Ruang 110B, Jl Pajajaran No 54 Bogor. Bukan di Kopi Oey tapi kamu harus memutari gedung, atau paling gampang tanyakan parkiran motor gedung tersebut. Cari pojokannya, pasti ketemu. Oiya, Labirin Coffee buka pukul 14:00 dan tutup sengantuknya. (Ini serius sengantuknya). Cek juga akun Instagramnya : Labirincoffee.

*psst…ditulis di malam jumat :p*