Ini judulnya lebay sih, hahaha, tapi seiring dengan tumbuhnya pohon beton disana-sini memang kenyataannya budaya gupak sudah semakin menghilang alias punah. Lokal banget juga istilah gupak, karena mungkin hanya terjadi di kampung saya di Cibeureum Sunting, Mulyaharja.

Gupak istilah mana ya? Mungkin gak semua orang tau ya, tapi yang jelas pengertiannya buat saya itu adalah bermain kotor-kotoran di kubangan, entah itu kubangan di sawah ataupun di sungai.

Semuanya berawal pada minggu yang lalu, dimana saya harus pergi keluar kota untuk menghadiri undangan temen kosan di Solo. Di sela-sela pergi itu dikabarin sama Ibun kalau si bungsu Ken tiba-tiba ngajakin mancing. Mancing apa?Katanya yang dibelakang rumah. Kebetulan ada perumahan yang agak “terbengkalai”, katanya disitu ada sungai. Saya pikir ada kolam pemancingan disana dan dia mau disitu.

Tetapi setelah saya pulang dikonfirmasi ke anaknya, ternyata sebenernya yang dipengen itu pergi ke sungai lalu cari ikan disana. Lalu saya bilang.

“Ken, tapi kan kita gak punya pancingan, harus beli dulu dong” tanya saya.

“Gimana kalau pake saringan aja, saringan ikan yang ijo” kata Kenzie. Memang sudah punya sih saringan ikan yang biasa dipake buat akuarium *yang kini terbengkalai.

Akhirnya setelah janjian di hari Minggu, bersama Ua dan para sepupunya, tertunaikanlah janjinya. Gupak yang dulu waktu saya kecil hampir setiap hari dilakukan, sekarang jadi barang mewah untuk anak saya. Dunia berubah. Sangat happy banget Ken dan rombongannya bisa gupak di hari itu, sampai waktu malam menjelang tidur Ken membisiki Ibun.

“Bun, hari ini hari terbaiik di dunia” 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.