Hara-Huru Bogorindu

Alkisah di negeriku, negeri Bogorindu terlahirlah sekumpulan makluk yang memiliki satu kesamaan yaitu suka berdongeng menamakan dirinya sebagai Bogorian. Kumpulan ini dibentuk dengan harmonis oleh para tetua dan tetui dengan cita-cita yang agung agar kelompok ini memberi manfaat untuk neger Bogorindu.

Hari demi hari mereka lewati dengan tawa suka ria. Bogorian yang tadinya hanya beberapa kini semakin besar. Gaungnya sampai dengan negeri tetangga sehingga Bogorian selalu saja diundang untuk hadi di acara-acara pesat negeri tetangga. Bogorian yang dinamis memberi warna bagi masing-masing makhluk di dalamnya. Setiap makluk pasti punya motivasi sendiri mengapa ia bergabung di Bogorian.

Telah banyak kegiatan yang dihasilkan, tidak sedikit karya yang diterbitkan oleh para Bogorian. Sebagai sesama tukang dongeng, bebaslah Bogorian untuk menjadi dirinya sendiri dalam bersosialisasi di negeri Bogorindu dan tetangga. Tidak sedikit juga Bogorian yang dikenal baik oleh negeri tetangga.

Tidak luput dari segala bentuk keinginan pribadi namun dan kelompok, Bogorian mulai beriak seperti jelaga ditetesi titik hujan. Semakin deras sehingga memecah jelaga tersebut. Satu demi satu Bogorian mulai menunjukan motivasinya. Tidak ada yang salah namun ketika kepentingan Bogiran dinomor sekiankan maka terjadilah hara-huru. Masing-masing Bogorian tidak saling percaya, tak lagi bertegur sapa. Pecah sudah apa yang dicita-citakan para pendiri Bogiran di negeri Bogorindu.

Kini siapapun di dalamnya akan merasakan perbedaan. Bogorian tak seperti dulu dimana kesejukan, kedamaian, imajinasi liar bebase berkembang dengan ceria. Kini senyuman tampak dengan bayangan hitam di belakang. Kabur dalam cahaya temaram. Rindu Bogorindu, ria Bogrian. Sebagian telah jadi kenangan, sebagian lagi simpang jalan.

Ini adalah cerita dongeng, sesuatu yang abu-abu, bias antara nyata dan tiada. 🙂

Leave a Reply