Apa korelasi antara Negara dan demonstrasi?Bisa jadi jika mahasiswa tahun 98/99 tidak melanjutkan aksi demonstarasi, Presden Habibie saat itu tidak secepat itu lengser. Jika itu terjadi, besar kemungkinan Indonesia mengalami kemajuan yang cepat. Apa dasar?Jika melihat fakta sejarahnya, beliau mampu menekan nilai tukar rupiah dari 16rb sampai dengan 6rb. Sebuah prestasi yang sulit dicapai bahkan sampai sekarang ini. Pintu demokrasi pun dibukakan selebar-lebarnya dengan kebebasan pers dan segala keterbukaan lainnya.

Mungkin “dosa besar” beliau yang tidak bisa diterima saat itu adalah lepasnya Timor-Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menurut saya sih itu tidak sepenuhnya tanggung jawab beliau. Terlalu banyak faktor “asing” yang masuk pada zamannya. Mulai dari ikut campurnya pihak asing dan segala bentuk kecurangan saat pemilihan jajak pendapat terlalu naif jika dikesampingkan.

Kemajuan yang akan terjadi jika Indonesia dipimpin oleh orang cerdas, berintegritas dan agamis saat itu memang menakutkan pihak barat. Sampai-sampai mimpi beliau agara Indonesia menjadi negara yang leading dalam industri pesawat terbang di dunia dihancurkan oleh kesepakatan IMF dengan tanpa ada alasan yang jelas. Namun siapapun bisa melihat bahwa jika Indonesia dibiarkan dengan PT Dirgantara Indonesia-nya maka industri pesawat terbang Boeing yang dimiliki Amerika Serikat akan terancam.

Kembali ke hubungan Habibie dan demonstrasi. Sangat disesalkan bahwa mahasiswa saat itu berdemonstrasi dengan berlebihan. Zaman orde baru memang banyak penyimpangan dan KKN maka perlu dikritisi, namun kondisi negara dalam keadaan stabil. Namu setelah terjadi demonstrasi besar-besaran yang dimulai oleh mahasiswa, negara menjadi tidak dalam keadaan stabil.

Dalam runutan kejadiannya, saat itu kondisinya adalah :

  1. Negara dalam keadaan stabil.
  2. Terjadi krisis ekonomi dunia.
  3. Mahasiswa demonstrasi
  4. Rezim Order Baru turun
  5. Habibie naik menjadi presiden
  6. Mahasiswa demonstrasi
  7. Habibie turun
  8. Masuk era reformasi

Menarik ke belakang lagi di era Orde Lama, pola kejadiannya hampir sama. Negara dalam keadaan stabil, terjadi ketidakpuasan, mahasiswa demo, rezim lama digulingkan lalu muncul rezim baru.

Setiap mulai rezim baru terasa Indonesia seperti dimulai dari nol lagi. Seperti ada “tombol reset” disaat itu. Pola-pola seperti ini membuat Indonesia sulit untuk maju. Padahal syarat negara untuk terus maju adalah kestabilan dalam segala bidang, dari ekonomi, politik, pendidikan dan sosial. Lihat Jepang, setelah perang dunia ke 2, mereka membangun kestabilan dalam negaranya dan terbukti maju. Juga lihat Korea Selatan yang maju pesat, itu pun didukung keadaan negara yang stabil.

Indonesia?Jika ingin maju, stop demonstrasi anarkis, berlebihan dan tidak bertanggung jawab. Pola-pola destruktif semacam itu harus segera ditinggalkan. Lebih baik semua warga Indonesia menciptakan kondisi yang stabil untuk semua. Semua pihak berbuat yang terbaik dalam bidangnya masing-masing. Tukang becak jadilah tukang becak yang baik, manager jadilah manager yang baik, pengusaha jadilah pengusaha yang baik, guru jadilah guru yang baik. Selain itu orang-orang cerdas dan berintegritas tidak boleh alergi untuk berpolitik. Untuk mengatur negara butuh orang yang cerdas dan berintegritas, itu yang tidak didapatkan pada politikus saat ini.

Tahun 2014 merupakan tahun politik sudah dekat. Pola-pola destruktif dalam membangun bangsa harus disadari untuk segera ditinggalkan. Sebaliknya pola-pola konstruktif dalam membangun bangsa harus segera disadari untuk ditingkatkan.

Noted : terinspirasi dari status Dody Qory Utama "Setiap melihat film habibie ainun , saya selalu merasa kesal dengan para mahasiswa pelaku demo :( mereka turut bertanggung jawab atas turunnya pak habibie karena asumsi mereka semua yg seolah2 tahu mana yg terbaik bagi negeri tanpa pemikiran mendalam :("

 

 

Leave a Reply