Grazie Vale

Grazie Vale menjadi trending topic di twitter pada tanggal 14 November 2021 malam waktu Indonesia bagian barat. Tidak seperti biasanya trending topic di luar topic kekoreaan, kali ini dari dunia motor sport topic tersebut terus diperbincangkan.

Ada malam ada siang, ada panas ada dinging, ada senang ada marah, ada awal maka ada akhir.

Pada hari itu memang menjadi balapan terakhir dari legenda hidup Valentino Rossi di dunia MotoGP, dunia yang menaikan namanya atau sebaliknya, dunia yang ia naikan namanya.

Saya sendiri baru mengenal Vale ketika ia sudah membalap di GP250 saat itu, yang sekarang berubah jadi Moto2. Tahun 2000 saat itu, saya yang masih duduk di kelas 2 SMP menyaksikan selebrasi seorang pembalap eksentrik, menaikan roda depan dengan liveri motor yang warna warni. Ketika pembalap itu membuka helm-nya, rambut panjang, keriting terurai dengan muka cengar-cengirnya, dan ia adalah Valentio Rossi kala muda. Impresive sekali kala itu membuai seorang bocah SMP untuk bilang “ah keren sekali ni orang”.

Tahun berikutnya, tahun 2001 ia naik kelas ke GP500, kelas para raja, dia, Vale, rider muda membalap dengan tim yang lucu, yang isinya hanya dia sendiri. Padahal saat itu biasanya setiap tim punya minimal 2 pembalap. Nastro Azuro, motor berwarna highlight kuning, dengan logo sponsor besar di fairingnya. Vale membalap dengan liar sekali saat itu, kombinasi darah muda dan mesin 2 tak itu memang liar sekali. Beberapa kali crash sampai di akhir musim ia bisa berada di posisi runner up. Sesuatu yang luar biasa untuk seorang rookie.

Tahun-tahun berikutnya seperti yang kita ketahui bersama penuh dengan drama, intrik, kemenangan dan Vale semakin tumbuh menjadi daya tarik utama dari MotoGP itu sendiri. Menjadikan dirinya icon balap motor dunia. Siapapun akan berpikir dan mengatikan balap motor sama dengan Valentino Rossi.

Vale adalah idola, Vale adalah role model, Vale adalah magnet, Vale adalah segalanya buat saya di MotoGP. Saat umur mulai menggerogoti kemampuannya, tapi tidak memudarkan aura kebesarannya. Umur memang gak bisa bohong, Vale semakin tidak kompetitif tapi herannya walaupun dia tidak membalap di barisan depan lagi, masih banyak penggemarnya yang hanya ingin menyaksikan manuvernya di setiap tikungan sirkuti, termasuk saya.

Grazie Vale, terimakasih sudah memberikan warna dalam kehidupan saya dan banyak orang, menginspirasikan hasrat dan kecintaan terhadap sesuatu. Yang menarik setelah Vale pensiun adalah legacy-nya dengan membuat VR46 Academy sehingga tahun-tahun ke depan kami para pencita balap motor akan terus mendapatkan talenta-talenta terbaik di balapan motor terkencang di dunia ini. Francesco Bagnaia, Fabio Morbidel adalah dua nama hasil didikan akademi yang didirikan Valentino Rossi. Sekali lagi, Grazie Vale.

Fun fact: his last dance at 14+11+21 = 46, the universe make him

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.