Gara-Gara Erfan

Terus terang, saya kaget bukan main waktu beberapa hari lalu dengar kabar dari seorang teman bahwa biaya kuliah saat ini sudah empat kali lebih besar dibandingkan biaya kuliah saya dulu. Padahal, saya lulus jadi sarjana belum genap tiga tahun lalu (*ya, saya masih muda, dan berbahaya). Kok bisa ya biayanya naik begitu? Saya jadi penasaran.

Usut punya usut, saya baru sadar bahwa kenaikan biaya pendidikan ini dipengaruhi inflasi dan terjadi drastis di semua lini. Bukan cuma perguruan tinggi, SD, SMP, SMA pun mengalami tren yang sama. Saya benar-benar baru sadar, maklum, mungkin karena belum punya pengalaman mengurus anak sekolah ya (*gendong anak sendiri juga belum pernah, nemenin istri melahirkan juga belum, uh ternyata banyak yang belum).

Di pertengahan tahun ini, mau nggak mau–suka nggak suka, saya harus putar otak memikirkan hal ini. Soalnya istri saya sedang hamil lima bulan, dan artinya saya akan punya anak empat bulan lagi (*menurut aljabar: 5 + 4 = 9). Menggembirakan..!! Sekaligus menantang.

Coba kita bayangkan, kenaikan biaya pendidikan bahkan melaju lebih cepat dibandingkan kenaikan rata-rata gaji pegawai di negeri ini. Kalau begitu, apa jadinya rencana masa depan pendidikan anak kalau nggak dipikirkan dari sekarang?

Nah, pernah suatu hari waktu berangkat kerja, saya ketemu teman lama di kereta. Namanya Erfan, perawakannya tinggi besar, berkacamata, dan rambutnya ikal seperti simpul tali Pramuka. Waktu SMA dulu, kami berdua sering datang paling pagi ke sekolah cuma buat main sepakbola plastik di lapangan basket (*yah, begitulah, balada jejaka muda angkatan 2000-an).

Renungan:
Kenapa ya, waktu berlalu begitu cepat… Kejadian main sepakbola itu rasanya masih terekam jelas di memori saya yang kuat seperti baja. Bahkan, guratan wajah manis mantan gebetan di SMA juga masih jelas tergambar di otak saya yang cemerlang seperti emas. Seperti kata pepatah: “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” (*lho kok nggak nyambung? Iya nggak apa-apa, kita kembali ke topik).

Erfan sekarang bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta yang menurutnya sangat kapitalistis. Dia rupanya nggak banyak berubah, masih kritis-analitis seperti dulu.

Selama perjalanan, kami ngobrol tentang banyak hal, termasuk rencana masa depan masing-masing. Erfan bicara tentang  impiannya untuk membelikan rumah baru untuk keluarganya, memberangkatkan orangtuanya haji, menyekolahkan anaknya kelak ke luar negeri, dan mencapai kebebasan finansial. Dia merasa sudah jenuh dengan pekerjaannya saat ini. Dia ingin hidup mandiri tanpa ketergantungan gaji.

Erfan rupanya benar-benar mendambakan kebebasan finansial. Dialah orang pertama yang menyarankan saya untuk memikirkan dana pendidikan anak dari sekarang (*padahal dia sendiri belum punya anak… makasih Erfan atas saranmu, sampaikan salamku buat resepsionis di kantormu).

Pertemuan itu terjadi sekitar 1,5 bulan yang lalu. Ketika saya masih pusing tujuh keliling memikirkan rencana masa depan pendidikan untuk calon anak saya. Ketika saya masih khawatir dengan jenjang karier di pekerjaan. Ketika saya masih sering berdebat tentang penghasilan pas-pasan dengan istri yang sedang hamil muda.

Dua minggu setelah pertemuan di kereta, Erfan membagikan link lewat social media yang membuat saya “terperangkap” di www.bca.co.id. Ya, saya sebut “terperangkap” karena bagi saya, jujur saja, isi website ini sangat menarik dan selalu berhasil menyita waktu saya.

Lihat saja, di halaman awal, kita sudah disuguhi beragam solusi perbankan yang mewakili rencana masa depan setiap orang. Cukup lama saya menghabiskan waktu di menu “Solusi untuk Anda” ini. Saya buka semua halamannya, mulai dari layanan perbankan tentang perumahan, kendaraan, proteksi, asuransi, hingga pendidikan. Selain itu, ada pula berbagai produk perbankan yang memfasilitasi kemudahan transaksi bagi para nasabah BCA.

Nah, setelah berselancar kesana-kemari, saya menemukan menu “Rencana Pendidikan” yang menyajikan gambaran lengkap tentang apa dan bagaimana seharusnya saya menyusun dana untuk kebutuhan pendidikan anak saya kelak. Saya punya impian anak saya nanti mendapat pendidikan yang terbaik, dan saya sebagai orangtua nggak perlu kesulitan mencarikan dana karena sudah dipersiapkan dengan matang. Saya pun akhirnya memutuskan untuk mendaftar Edusave, salah satu produk perbankan yang menurut saya sangat cocok bagi karyawan bergaji pas-pasan seperti saya. Menurut saya, pendidikan adalah aspek terpenting dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia di masa depan.

Ya, begitulah ceritanya. Saya sekarang jadi lebih paham tentang kebutuhan finansial dan jenis layanan perbankan gara-gara Erfan. Sejak mengenal www.bca.co.id, saya merasa lebih optimis menghadapi berbagai tantangan finansial yang suatu saat bisa menimpa siapa saja, termasuk keluarga saya (*jangan sampai ya Tuhan, lindungilah hamba-Mu ini dari krisis moneter).

Bagi saya, ini adalah langkah sederhana namun efektif untuk menyusun rencana masa depan pendidikan untuk anak. Saya berharap dengan rencana pendidikan yang matang, saya dan keluarga bisa menata masa depan yang lebih cerah dan sejahtera. Hidup Indonesia! Merdeka!

(*ngomong-ngomong, Erfan itu paling senang makan ikan asin plus sambal terasi).

***

13 Juni 2012,
ditulis di perjalanan kereta Commuter Line Bogor – Jakarta
oleh: seorang suami dan calon ayah