Dewa Kipas dan Polemiknya

Diberitakan bahwa pelaku peristiwa pembunuhan sepasang suami istri ditangkap oleh pihak Kepolisian. Pelaku berinisial S dengan terencana menganiaya sepasang pasutri sampai keduanya tewas. Hasil interogasi pihak kepolisian, pelaku membunuh sepasang suami istri tersebut dengan menggunakan sebuah pisau yang dibeli dari seorang seniman pembuat pisau Mr. Kenaif.

Paragraf di atas hanya fiktis ya teman-teman, tapi menarik dibahas tentang siapa yang salah pada kasus tersebut. Apakah si pembunuh atau Mr. Kenaif si seniman pembuat pisau?

Buat sebagian orang Mr. Kenaif lah yang bersalah. IMO, emosi dan nasionalisme tidak pernah salah asal ditempatkan pada tempat yang seharusnya namun dalam hal ini “death threat” tentu bukan pada tempatnya, jadi pelaku pelontar “death threat” seharusnya yang dipersalahkan.

Dewa Kipas vs Gotham Chess

Awal kisruh ini dimulai dari hal sederhana dimana ada aplikasi yang namanya chess.com yaitu sebuah aplikasi permainan catur dimana pemain dari seluruh dunia bisa bertemu, tentu sesuai dengan rank-nya.

Tersebutlah GothamChess seorang pro player di Chess.com dengan follower ribuan bernama asli Levy Rozman dari Amerika Serikat mengadakan live streaming melawan Dewa Kipas yang bernama asli Dadang Subur berasal dari Bandung.

Pertandingan kedua orang ini disiarkan secara live melalui aplikasi Twitch. Mr Levy dengan komputernya melawan Pak Dadang yang bermain dengan smartphone di rumahnya.

Singkat cerita tanpa diduga GothamChess kalah oleh Dewa Kipas. Kekalahan ini memantik kata “curang” dari followers GothamChess. Selesai pertandingan, tidak lama kemudian akun Dewa Kipas di banned oleh Chess.com karena disinyalir curang.

Anak dari Dewa Kipas yaitu Ali Akbar (cmiiw) kemudian posting di facebooknya bahwa akun yang biasa digunakan oleh ayahnya (Dewa Kipas) di banned setelah mengalahkan seorang GothamChess dan merasa tidak terima, dia (Ali Akbar) berpikir bahwa karena report dari GothamChess lah akun ayahnya kena banned (blokir).

Kekuatan Netizen Indonesia

Tanpa dikomando dengan berdasarkan nasionalisme, netizen Indonesia tidak terima dan akhirnya menyerang balik GothamChess dari kata-kata yang baik sampai dengan kata yang buruk bahkan disinyalir ada “death threat” atau ancaman pembunuhan.

Perang antara pendukungan GothamChess vs Dewa Kipas tidak bisa dihindari. Saling report dan komen tidak berhenti bahkan sampai saya menulit tulisan ini.

Sebelum ada kasus ini, Microsoft mengeluarkan hasil survey yang mengatakan bahwa netizen Indonesia adalah netizen paling tidak sopan di dunia. Tentu aja ini jadi pembuktian kontan hasil survey tersebut.

Media Yang Berlebihan

Berita kekalahan GothamChess ini menjadi viral dan akhirnya dimakan oleh media, tidak terkecuali konten kreator dengan subscriber 14 juta yakni Deddy Corbuzier sampai mengundang Dewa Kipas dan anaknya untuk mengisi salah satu episode Podcast di bawah ini.

Riding on a wave. Tentu aja konten seperti ini akan banyak viewernya dan Om Deddy menyadari itu. Gak ada yang salah, orang cari uang kok.

Dari sini kita bisa lihat karakter seperti apa sih Pak Dadang alias Dewa Kipas. Mungkin gak dibuat-buat?mungkin saja. Who knows. Kita lihat saja berdasarkana apa yang ditampilkan di Podcast ini.

Selain menceritakan kronologisnya, kita juga bisa tau bahwa Pak Dadang ini hanya menyalurkan hobinya dalam bermain catur. Sejak muda dia sudah senang catur tapi malah lebih serius di Pingpong. Menurut dia dunia catur gak ada uangnya, sampai-sampai dia berprinsip tidak bergelar catur tidak apa-apa tapi memberik makan anak istri nomor satu. Ah lupa deh quote-nya.

Tanggapan Percasi

Kisruh GothamChess vs Dewa Kipas sampai memantik Percasi membuat konfrensi pers soal edukasi chatur daring/online. Isinya ada GM catur Indonesia yaitu Irene Kharisma dan Susanto Megaranto, pecatur senior lainnya dan pengurus Peracasi.

Intinya mereka menyangkan kasus ini karena mencorent citra catur Indonesia dimana mereka sudah bersusah payah berjuang untuk mengharumkan nama Indonesia di pentas catur dunia.

Well, IMO, saya sudah mendengarkan semua isinya malah menangkap kesan menyudutkan Dewa Kipas bahwa ia berbuat curang dengan mengacu pada statistik dimana statistik permainan Dewa Kipas tidak umum. Selengkapnya sebaiknya didengar sendiri.

Buat saya press conference ini blunder, kenapa? alih-alih memanfaatkan publisitas yang besar untuk semakin mendekatkan catur kepada masyarakat, press conference ini seperti membuat jarak antara pecatur yang tergabung dengan federasi dengan pecatur-pecatur pemula. Sebaiknya Percasi konsultasi deh dengan konsultan media supaya bisa memanfaatkan situasi menjadi produktif. Kabar baiknya akan ada Podcast yang akan ditake di hari Rabu nanti di Podcast Deddy Corbuzier mengundang Irena mewakili pecatur pro Indonesia.

Di lain pihak saya melihat Pak Dadang sebagai pria tua yang ingin bersenang-senang dengan bermain catur namun karena kekisruhan ini pasti membuat dia tertekan. Dan ditambah gak ada duitnya lagi!!! Rugi dua kali. Hobinya jadi terhambat yang ada malah harus melayani semua orang yang menuduh dia bermain curang. Hei bukanya permainan itu seharusnya fun?!!

Ini tuh kayak main PES terus lawan kita marah-marah karena kalah dan bilang “curang”, padahal ya namanya game, ada menang ada kalah. Mungkin Dewa Kipas hanya beruntung saja menang lawan GothamChess yang saat itu kurang serius bermainnya. Simak juga penjelasan kronologis dari video amatir anaknya di bawah ini.

Apakah videonya di”setting”?I don’t think so. Ya seharusnya main buat fun aja, toh gak ada duitnya?! Eh atau ini soal harga diri. Mungkin. 😀

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.