Bisnis Esek-esek di Media Sosial

Kematian seorang janda cantik bernama Deudeuh Alfi Syahrini alias Epi, alias Tata, 27 Tahun di kosannya di daerah Tebet pada Sabtu, 11 April 2015 lalu membuka mata betapa bisnis ini ikut berkembang mengikutin perubahan zaman. Bisnis ini bisnis esek-esek atau prostitusi adalah salah satu bisnis tertua yang ada di dunia ini selain bisnis perjudian rupanya tidak mau ketinggalan zaman di era teknologi dan media sosial.

Inti bisnisnya sama saja yaitu prostitusi, yang berbeda hanyalah sistemnya. Jadi kalau dulu biasanya para pekerja prostitusi ini bekerja dalam kelompok, dan biasanya ada mamih/germo-nya. Tugas mamih/germo adalah untuk mengkoordini para pekerja prostitusi. Urusan cari pelanggan, tempat, keamanan dan lain-lain termasuk juga dalam pekerjaan mamih/germo. Pekerja hanya sebatas pekerja, tentu bayaran pun akan dibagi-bagi. Kebanyakan malah pekerja mendapat bagian yang lebih sedikit, dan bahkan di banyak kasus para pekerja ini tidak mendapatkan apa-apa alias hanya dijadikan budak pekerja.

Kasus perbudakaan di dunia prostitusi juga lagu lama, saya sendiri sedang membaca sebuah buku berjudul “Natasha” sebuah buku karya seorang jurnalis rusia dimana ia mengungkapkan bisnis terselubung ini di eropa timur sana. Yang mencengangkan bisnis ini masih berjalan sampai sekarang dan melibatkan mafia antar negara. Korbannya siapa lagi kalau bukan para perempuan-perempuan yang tertipu akan tawaran “pekerajaan” dah akhirnya berujung menjadi korban trafficking lintas negara.

Kembali ke kasus “Deudeuh”, di Indonesia sendiri, bisnis esek-esek ini sudah melek teknologi. Para pekerja yang melek internet biasa memanfaatkan media sosial untuk mencari pelanggan. Media sosial yang biasa digunakan yaitu facebook, whatsapp, bbm dan line. Lucunya kalau kalian mau telusuri, mereka punya semacam “member group”. Jadi pelanggan-pelanggan yang serius akan dimasukan ke dalam group facebook, whatsapp, line atau bbm.

Saya bilang pekerja prostitusi ini bekerja secara independent bermodal gadget, internet, dan kos-kosan campur 24 jam. Gadget bisa berupa smartphone yang harganya saat ini banyak yang murah. Paket internet pun banyak yang murah. Kos-kosan di Jakarta paling mudah dimanfaatkan karena relatif “bebas” dalam menerima tamu. Jadilah mereka kupu-kup 247, 24 hours 7 days a week. :p

Kok bisa men-judge kalau “Deudeuh” ini pekerja prostitusi independent?!”Deudeuh” ini dikaitkan dengan akun @tataa_chubby. Kalau diliat biography di twitter, ciri-ciri ia pekerja prostitusi langsung terlihat. Baca sendiri ya! :p Biasanya di akunnya akan dijelaskan “spek” body, biaya tarif, dan aturan-aturan lainnya. Dan akun seperti ini banyak banget, coba cek similiar to this account, langsung deh keluar semua akun-akun dengan avatar yang mencirikan banget, salah satunya yang sudah saya cek (*bareng istri loh :p) adalah akun @AlterMaya.

Bisnis esek-esek di media sosial ini akan sangat sulit diberantas. Mati satu tumbuh seribu, kebayang dong tiap hari kalau dari keminfo harus mem-block akun-akun ini, prosesnya aja panjang, kalau setiap hari ada ratusan pihak twitter pun akan kelabakan. Karena yang berhak mem-block tentu saja twitter bukan keminfo, mereka hanya bisa mengusulkan dengan sangat.

Satu-satunya cara melawannya, mau tidak mau adalah membekali diri dan keluarga dengan pondasi agama dan norma yang kuat agar ketika ada godaan-godaan seperti itu, kita dapat melewatinya. Selamat beretika di media social, bebas bukan berarti tidak bertanggun jawab. 🙂