Dua minggu yang lalu, Sabtu, 9 Maret 2019, atas undangan dari salah satu rekan blogger yang hits pada zamannya (*hai Viera…), saya menghadiri acara “Tasting Menu” di Kedai Kembang, sebuah kafe yang ada di dalam area SKI Tajur, Bogor. Acaranya selain dihadiri oleh blogger juga ada teman-teman dari komunitas yang ada di sekitaran Bogor. Ada komunitas Google Guides Indonesia, Monteszorg (Montessori Buitenzorg), dan Tour Bogor (aduh yang ini maapkan saya melupakan nama komunitas kalian).

Kedai Kembang @SKI Tajur
Kedai Kembang @SKI Tajur

Acara siang itu santai banget, di sana di Kedai Kembang ada tiga orang yang sharing mengenai makanan, minuman dan komuntas. Dan sambil kita ngobrol-ngobrol acara utamanya yaitu icip-icip menu juga sambil berjalan.

Mereka bertiga adalah Chef Irfan dari Kedai Kembang, Chef Martina dari SKI Tajur sendiri dan Mayang dari Ruang Tumbuh. Chef Irfan ini omong-omong lulusan sekolah kulinari Le Cordon Blue London di luar negeri, dan dia kembali ke Indonesia untuk mengembangkan usaha kuliner dengan menitik beratkan ke bahan-bahan lokal. Maka jangan heran kalau setelah ini kalian akan ketemu dengan nama-nama menu berbahasa Perancis karena Chef-nya kan lulusan sekolah sana, hehe.

Kedai Kembang Bicara
Chef Martina, Mayang dan Chef Irfan ngobrol santai soal Kopi, Makanan dan Komunitas di Kedai Kembang Bicara

Sekadar catatan, ini pertama kalinya loh saya makan dengan konsep eropa dimana ada appetizer alias makan pembuka, entree alias makanan utama dan terakhir ditutup oleh dessert yang artinya bukan padang pasir tapi makanan penutup.

APPETIZER – Sauteed Chicken Breast Covered in Rich Chicken Gravy With Assorted Vegetables

Sambil Chef Irfan ngomongin sejarah Roti John sebagai makanan utama, kami disajikan makanan pembuka dengan nama yang sungguh rumit, Sautted Chicken Breast Covered in Rich Chicken Gravy with Assorted Vegetables. Secara visual, memang terbukti lulusan luar negeri ini sangat istimewa dalam platting, kece badai, segar dimata membuat orang-orang yang liat pasti ingin segera memakannya. Cerah gitu warnanya.

Chicken Breast
Chicken Breast

Pada dasarnya makanan ini (*males ngulang namanya, haha), adalah dada ayam yang diberi bumbu minimalis, entah dipanggang atau direbus gitu dan didampingi oleh sayuran berupa potongan tomat, kripik kentang dan lobak. Jadi kalau dada ayamnya dicampur dengan saus-saus yang kelihatannya seiprit-iprit itu bikin rasa yang unik. Kesegaran dada ayamnya masih kerasa dengan ada sedikit tambahan rasa dari saus dan bumbunya.

ENTREE – Deconstructed Roti John

Roti John, menurut Chef Irfan sejarahnya berasal dari Malaysia dimana ada orang sana yang namanya Abdul, dia ini selalu diminta oleh tentara Ingris untuk membuat roti isi telur. Karena kebiasaanya ini lah dia terinspirasi untuk mengembangkannya dengan nama Roti John (*John, panggilan si tentara Inggris tersebut). Berkembang di Malaysia, hype Roti John sampai juga ke Singapura dan akhirnya masuk ke Indonesia dengan berbagai resep pengembangan.

Roti John ala Kedai Kembang ini menggunakan resep yang memanfaatkan sepenuhnya bahan-bahan lokal, kecuali rotinya. Kalau mau mengembangkan konten lokal kenapa tidak sekalian rotinya?Begitulah kira-kira pertanyaan dari salah seorang yang hadir. Oleh Chef Irfan dijawab bahwa dia sudah mencoba dengan berbagai tepung untuk membuat dasar roti namun cita rasa terbaik tetap dari bahan dasar tepung gandum sehingga dengan tidak mau mengurangi kualitas, unsur tepung yang mana bahan import dari gandumnya belum bisa digantikan.

Deconstructed Roti John ala Kedai Kembang
Deconstructed Roti John ala Kedai Kembang

Roti John yang disajikan oleh Chef Irfan tidak sesuai ekspektasi saya selama ini karena roti john yang saya kenal biasanya berbentuk panjang, namun Chef Irfan menyajikan dengan cara sudah dipotong-potong. Untuk jelasnya lihat saja deh gambar dibawah. Rasanya enaaaak tentu saja.

DESSERT – Tripple Coffee Cake

Chef Martina yang merupakan manager restoran SKI Tajur sangat bersemangat sekali berbicara tentang bahan-bahan lokal dan semangat mengembalikan makanan ke fungsi utamanya yaitu untuk tubuh.

Saya ingat betul ketika beliau dengan menggebu-gebu bicara bahwa makanan itu jangan cuma sedap dipandang dan nikmat di mulut. Seperti trend makan jaman sekarang bukan?! Menurut beliau makanan yang masuk ke dalam tubuh harus baik untuk tubuh itu sendiri dan bahan-bahan lokal sudah memenuhi nilai kebaikan tubuh.

Salah satu usaha beliau untuk mengangkat bahan-bahan lokal untuk dihargai dan dicintai adalah dengan membuat De Cup of Gayo. Kedai kopi yang untuk saat ini spesialisasinya menggunakan biji-biji kopi yang berasal dari Gayo. Alasan akses yang mudah ke petani yang membuat Chef Martina memulainya dengan Gayo.

Saya sempat berpikir bahwa kopi Gayo adalah semua, ternyata beda. Di acara ini saya baru sadar bahwa dari suatu lokasi saja, misalnya dari Gayo, kopi-kopinya punya cita rasa yang berbeda. Robusta Gayo, Arabika Gayo, Luwak Gayo dan turusannya masing-masing punya keunikan sendiri.

Kopi Gayo Wine diseduh dengan V60
Kopi Gayo Wine diseduh dengan V60

Kali ini saya mencicipi Kopi Gayo Wine karena penasaran dengan rasanya yang katanya mirip wine. Wine kata orang-orang punya rasa yang asam dan menyegarkan, untuk membuktikannya sama minta barista resto SKI Taju, Mas Erik untuk menyeduhkan single origini wine gayo dengan metode V60 yaitu metode penyeduhan dengan menggunakan filter kertas dengan sudut membentuk 60 derajat.

Dari Mas Erik ini saya juga tahu bahwa sebenarnya V60 normalnya digunakan untuk menyeduh teh, namun akhirnya di”selewengkan” menjadi salah satu metode untuk seduhan kopi untuk mendapatkan kopi yang lebih ringan. Terbukti setelah berhasil diseduh, rasa kopinya bener-benar tipis sekali, lebih kuat rasa asam yang menyegarkan. Maka pantas dibilang wine.

Kembali ke hidangan pentutup, acara icip-icip menu ini ditutup dengan dessert bernama Triple Coffee Cake. Rasanya lembut dan agak tawar, menurut Chef Martina, rasanya yang tawar itu terbukti bahwa dessert ini murni menggunakan bahan kopi segar karena tantantangan dalam membuat hidangan rasa kopi dengan bahan kopi asli adalah rasanya pasti tidak akan kuat dibandingkan jika menggunakan penguat rasa kopi buatan. Walaupun begitu, dessert ini tetap enak kok, jadinya tidak terlalu manis berlebihan, serasa kembali ke alam.

Triple Coffee Cake
Triple Coffee Cake

Komunitas Tumbuh di Ruang Tumbuh

Menurut Mayang, pasti ada sesuatu yang membuat komunitas di Bogor ini tidak begitu terlihat. Ia membandingkan dengan aktifnya komunitas-komunitas di Jakarta berkumpul, bergerak dan bertumbuh. Kenapa di Bogor tidak bisa?

Hal ini lah yang menjadi dasar pemikiran Mayang untuk membuat project Ruang Tumbuh dimana komunitas-komunitas di Bogor bisa saling support dan berkolaborasi untuk memberikan impact yang lebih terhadap lingkungan. Untuk itu Ruang Tumbuh hadir dengan memanfaatkan area di Kedai Kembang sebagai tempat belajar bersama untuk semua komunitas.

Memang di Kedai Kembang ini space-nya cukup luat jika akan mengadakan event, workshop atau diskusi-diskusi public. Disini juga sebagian area disediakan tempat untuk berjualan barang-barang pre-loved. Saya yang melihat kenyataan sama berharap Ruang Tumbuh benar-benar bisa meng0-empower komunitas-komunitas untuk bergerak dan bertumbuh bersama. Semoga saja terwujud ya.

Mayang bicara tengan komunitas di Ruang Tumbuh
Mayang bicara tengan komunitas di Ruang Tumbuh

Kehadiran Kedai Kembang di area dalam SKI Tajur memberi warna tersendiri. Akhirnya ada tempang hang out yang memadai karena selama ini belum ada konsep kafe yang ada di SKI Tajur. Jadi puas main-main di wahana yang memang sudah ada disini bisa sekalian nongkrong di Kedai Kembang dan ngobrol sama Chef Irfan yang katanya tiap hari ada disana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website