5 Januari 2018 : Apakah Menjadi Pribadi Jujur Itu Sulit?

Waktu menunjukan lewat jam 12 malam. Kereta Brantas relasi Stasiun Pasar Senen – Blitar masih juga belum sampai Solo Jebres. Di tengah-tengah sepi-nya gerbong karena penghuninya mulai terlelap tidur saya berdiri dari tempat duduk saya di bangku 1B kereta nomor 7. Jujur aja, sulit tidur di kereta ekonomi dimana bangkunya membentuk sudut 90 derajat siku-suku sama kaki. :p

Tempat Duduk Kereta Ekonomi
Diambil dari toursbyrail.com

Gak se-extreem itu memang, ga 90 derajat banget, 100 derajat lah. Oke ga signifikan. FYI, buat yang belum pernah naek kereta ekonomi : bedanya eksekutif dengan ekonmi salah satunya dari bisa enggaknya bangku di-reclining. Bangku ekonomi itu saklek semacam sakleknya teman saya yang dokter di PMI itu waktu cari jodoh sampai-sampai di umur udah kepala 3 masih juga belum dapet yang sreg. Oke ga nyambung

Di ruang sambungan antar gerbong yang kalau jaman dulu lokasi favorit orang-orang buat ngeroko atau lebih umum dikenal sebagai bordes saya mengeluarkan smartphone low budget dari kantong celana. Tap icon Instagram dan mulai memencet tombol love disetiap postinga. Ritual yang saya sebut sebagai sedekah love. Kenapa gitu? Oke bahan postingan berikutnya saya jelaskan kenapa sih gampang kasih love di postingan orang terutama yang lagi promote sesuatu. Di antara postingan-postingan itu ada sedikit yang menggelitik logika berpikir saya.

Sebuah postingan yang isinya bagus saya namun diberi hastag atau tanda pagar yang gak jujur. Ini opini pribadi saya tapi beneran deh saya sih ngeliatnya gak nyaman, bukan karena isinya, isinya saya suka tapi lompatan logika yang ada antara konten dan hastag yang digunakan.

Isi postingannya bagus, sebuah ajakan untuk pribadi yang lebih bagus dari seorang ulama. Kita diajak untuk tidak berdusta, meninggalkan amalan yang jelek dan seterusnya, namun diakhir caption saya menemukan hastag #bukantausiah.

Hellooo..di ruang publik, dengan konten tersebut bilang itu tausiah. C’mon, jujurlah karena jujur itu modal hidup (*kata Ibu-ibu kantin tukang nasi kuning di film dokumenter waktu SMA). Tausiah atau ceramah, jelas-jelas isinya tausiah. Mungkin maksudnya selfnoted tapi jadi geli juga ketika niatannya self noted tp dipost di ruang publik. Kenapa ga disimpan di tempat yang lebih privat misalnya di notes pribadi (ada evernote, onenote, notes dll untuk aplikasinya).

Akan lebih indah jika jujur saja bahwa captionnya merupakan tausiah, barangkali bermanfaat untuk yang membacanya. Menggunakan hastag #bukantausiah malah kontradiktif dengan isinya. Mau dari sudut pandang manapun bagi pembacanya jelas-jelas itu adalah tausiah.

Saya pikir di ruang publik yang tercipta di media sosial, penting untuk menjadi pribadi jujur dan apa adanya. Cukuplah para politisi yang berlaku hipokrit yaitu antara ucapan dan perbuatan tidak sejalan. Hal ini mengingatkan saya ketika kasus aplikasi CELUP terjadi, dimana si foundernya ternyata berlaku tolak belakang dengan apa yang memotivasi gerakan CELUP.

Pertanyaan akhirnya, apakah menjadi pribadi yang jujur itu sulit?

7 thoughts on “5 Januari 2018 : Apakah Menjadi Pribadi Jujur Itu Sulit?

Leave a Reply